Pemkab Bantul menganjurkan petani persiapkan lahan hadapi masa tanam

id Petani,mulai tanam padi,kekeringan

Salah satu bulak lahan pertanian di wilayah Kabupaten Bantul, DIY (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Dinas Pertanian Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menganjurkan para petani menyiapkan lahan garapan di musim kemarau ini menghadapi kegiatan tanam padi pada musim hujan yang akan datang.

"Yang jelas kita hanya menganjurkan petani sambil menunggu kemarau berakhir, lahannya dikondisikan bagaimana caranya, agar pada saat musim hujan nanti sudah siap (ditanami)," kata Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Bambang Pin Erwanta di Bantul, Kamis.

Menurut dia, musim kemarau panjang tahun ini mengakibatkan tanaman padi atau sawah di beberapa kecamatan mengalami gagal panen karena kesulitan air, sehingga petani dianjurkan untuk sementara waktu tidak menanam, melainkan mempersiapkan lahan.

Namun demikian, kata dia, jika terpaksa petani tetap ingin menanam disarankan untuk menanam tanaman hortikultura maupun palawija dan tetap memperhatikan ketersediaan air irigasi di sekitar, agar tetap dapat tumbuh dan berbuah.

"Yang jelas untuk kemarau ini sejak awal sudah kita prediksikan, bahwa terutama jangan menanam tanaman yang membutuhkan air banyak dalam hal ini padi, sehingga kita anjurkan untuk menanam hortikultura yang sedikit memerlukan air," katanya.

Ia mengatakan berdasarkan data yang dihimpun dari bidang tanaman instansinya menyebutkan bahwa lahan pertanian yang gagal panen karena kemarau 2019 seluas 122 hektare yang tersebar di enam kecamatan yaitu Sedayu, Pajangan, Imogiri, Dlingo, Kasihan dan Pleret.

"Data di kita untuk kecamatan yang katakanlah ada sawah pusonya hanya di sekitar Dlingo, kemudian Imogiri sama sedikit dari wilayah Pajangan, akan tetapi tidak signifikan untuk lahan pusonya," katanya.

Terkait dengan ganti rugi bagi petani yang lahannya puso, dia mengatakan belum mengupayakan, karena belum ada pernyataan bahwa kekeringan yang melanda lahan pertanian tersebut sebagai bencana alam, apalagi musim kemarau terjadi setiap tahun yang bisa diantisipasi sebelumnya.

"Kalau ganti rugi itu mesti ada bencana alam, ada pernyataan, ketika itu belum kita belum mengupayakan ada ganti rugi, sehingga memang untuk sementara ini kaitan dengan puso dan sebagainya hanya sebatas data yang kita dapatkan, untuk ganti rugi belum," katanya.

Baca juga: Gunung Kidul mengirim tim ahli teliti sumber mata air Widoro Lor
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar