BPS: Partisipasi Sensus Penduduk Online di Yogyakarta mencapai 83 persen

id sensus penduduk online,partisipasi,yogyakarta

BPS: Partisipasi Sensus Penduduk Online di Yogyakarta mencapai 83 persen

Ilustrasi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengikuti Sensus Penduduk Online (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Partisipasi warga Kota Yogyakarta untuk mengikuti Sensus Penduduk Online hingga Selasa (26/5) mencapai 83 persen dari target yang telah ditetapkan atau 29.806 kepala keluarga dari target 35.687 kepala keluarga.



“Kami berharap, akan ada peningkatan partisipasi masyarakat dalam tiga hari terakhir sebelum Sensus Penduduk Online ini ditutup pada 29 Mei,” kata Kepala Seksi Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta Chandra Wahyu Yuniar di Yogyakarta, Rabu.



Menurut dia, setelah BPS secara resmi memperpanjang pelaksanaan Sensus Penduduk Online, jumlah warga Kota Yogyakarta yang berpartisipasi dalam sensus tersebut cenderung stabil yaitu sekitar 100 hingga 200 kepala keluarga per hari.



Namun, tingkat partisipasi tersebut meningkat cukup signifikan pada Selasa (26/5), dengan sekitar 700 kepala keluarga yang melakukan pengisian data Sensus Penduduk Online.



“Harapannya, kecenderungan peningkatan partisipasi masyarakat menjelang berakhirnya sensus secara online ini akan semakin meningkat,” katanya.



Meskipun belum mencapai target, namun Chandra mengatakan, rasio partisipasi masyarakat Yogyakarta dibanding total populasi keluarga lebih tinggi dibanding empat kabupaten lain di DIY. Tingkat partisipasi warga dibanding seluruh populasi mencapai 22 persen.



“Tidak ada yang sulit dalam mengisi data atau menjawab pertanyaan dalam sensus online. Hanya saja, masyarakat terkadang merasa takut salah dalam memberikan jawaban sehingga tidak mengikuti sensus online,” katanya.



Sebelum terjadi pandemi COVID-19, Chandra mengatakan, rutin mendatangi kelurahan atau kecamatan dan memberikan bimbingan langsung kepada warga untuk mengisi sensus penduduk secara online.



“Tetapi, karena ada pandemi seperti sekarang, maka kegiatan tersebut tidak dilanjutkan sehingga sosialisasi lebih banyak dilakukan melalui media sosial termasuk langkah mudah untuk mengikuti sensus secara online,” katanya.



Sejumlah kendala yang terkadang ditemukan adalah data kartu keluarga dinyatakan tidak sesuai. Hal tersebut disebabkan basis data yang digunakan oleh BPS dalam sensus penduduk online adalah data kependudukan per Juli 2019.



“Jika kartu keluarga terbit setelahnya, maka tidak bisa melakukan sensus online. Nanti akan disensus dengan metode wawancara. Tetapi, karena masih ada pandemi seperti sekarang, tentu akan ada mekanisme yang berbeda,” katanya.



Meskipun demikian, Chandra juga belum dapat memastikan metode sensus penduduk dengan cara wawancara. “Kami masih menunggu bagaimana mekanisme pelaksanaannya dari pusat termasuk jumlah petugas yang dibutuhkan,” katanya.

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar