
Kulon Progo diminta analisis program asuransi cabai

Kulon Progo (ANTARA) - Anggota Pansus Penanggulangan Kemiskinan DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Hamam Cahyadi meminta Dinas Pertanian dan Pangan membuat analisis program asuransi usaha tani padi ini direplikasi untuk komoditas cabai, bawang merah dan melon.
Hamam Cahyadi di Kulon Progo, Kamis, mengatakan ketiga komoditi ini dinilai paling banyak petani yang membudidayakan komoditi ini di wilayah selatan mulai dari Temon, Wates, Panjatan, Galur, dan Lendah yang sering menghadapi ancaman banjir.
"Setidaknya jika terjadi gagal panen, petani masih bisa bangkit dari klaim asuransi yang diberikan untuk bisa menanam kembali. Untuk itu, kami minta dinas menghitung secara detail berapa dana yang dibutuhkan jika program asuransi pertanian daerah ini bila digulirkan," kata Hamam.
Menurut dia, asuransi untuk sektor komoditas nilai jual tinggi dan berisiko tinggi sangat penting. Karena saat merugikan karena gagal panen, maka mereka akan susah bangkit kembali. Namun demikian, Prioritas penerima subsidi premi yaitu petani miskin.
"Hal ini bagian upaya penanggulangan kemiskinan di Kulon Progo," katanya.
Saat ini, lanjut Hamam, usaha pertanian di Kulon Progo sering mengalami resiko ketidakpastian panen yang cukup tinggi.
Kegagalan panen selain karena serangan hama, juga karena cuaca. Terutama lahan pertanian di wilayah selatan Kulon Progo sering mengalami banjir. Sudah berjalan program asuransi usaha tani padi oleh pemerintah pusat dengan kepesertaan petani Kulon Progo yang telah ikut sebanyak 1.500 hektare sawah.
Program ini cukup bagus dalam rangka untuk melindungi petani dari kerugian akibat gagal panen. Besaran premi yang tidak terlalu besar dikarenakan petani hanya membayar 20 persen sementara pemerintah pusat menanggung subsidi 80 persen atau nilainya petani membayar premi Rp36 ribu per hektare per musim tanam.
"Kami berharap komoditas tanaman yang memiliki risiko tinggi juga ikut dalam asuransi," katanya.
Kabid Pangan dan Penyuluhan Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Wazan Mudzakir mengatakan perubahan iklim menyebabkan sektor pertanian perlu mendapatkan perhatian serius.
Perubahan iklim ini dampaknya bisa kepada kesejahteraan masyarakat. Isu ini perlu menjadi salah satu yang ditanggulangi oleh Pemerintah Kulon Progo. Isu ini sudah global.
Perubahan iklim ini sudah dirasakan oleh petani di Kulon Progo. Misalnya satu kali dalam satu wilayah gagal panen dampaknya luar biasa. Hal ini dikarenakan Kulon Progo merupakan wilayah pertanian.
Dinas Pertanian dan Pangan berusaha mengolah informasi iklim dari BMKG bermanfaat bagi pertanian. Beberapa informasi iklim sangat berguna saat tanam bawang merah di Srikayangan.
"Saat kami mendapat informasi bahwa tiga bulan dari Agustus sampai Oktober curah hujan tinggi, kami mendorong petani mempercepat tanam bawang merah. Yang terlambat tanam, saat mau panen, tanaman bawang merah terendam. Hak ini dapat mengurangi dampak kerugian akibat perubahan iklim," katanya.
Wazan mengatakan asuransi pertanian memang harus didorong di Kulon Progo. Saat ini, pertanian yang terlindungi asuransi baru padi, sapi dan kerbau.
"Komoditas lain belum. Asuransi sangat krusial. Sekali petani gagal panen, mereka akan kehilangan Pendapatan. Hal ini juga menyebabkan kemiskinan baru," katanya.
Pewarta : Sutarmi
Editor:
Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
