DKP Gunungkidul mengusulkan SPBN dikelola Koperasi Desa Merah Putih

id DKP Gunungkidul ,Koperasi Merah Putih ,Nelayan Pantai Sadeng ,Gunungkidul

DKP Gunungkidul mengusulkan SPBN dikelola Koperasi Desa Merah Putih

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul Wahid Supriyadi. ANTARA/Lukman Hakim

Gunungkidul (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengusulkan agar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di kawasan Pantai Sadeng Gunungkidul dapat dikelola Koperasi Desa Merah Putih atau Koperasi Nelayan setempat.

"Kami mengusulkan SPBN dikelola Koperasi Desa Merah Putih atau Koperasi Mina Rejo Pantai Sadeng yang sudah eksis dan memiliki kapasitas kelembagaan. Koperasi bisa memainkan peran strategis, bukan sekadar operator distribusi tetapi juga sebagai pengelola bisnis yang menjembatani risiko sistem ijon agar rantai distribusi BBM tidak terputus," kata Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul Wahid Supriyadi di Gunungkidul, Rabu.

Menurut dia, penyaluran BBM ke nelayan selama ini sering menggunakan sistem "ijon", yakni nelayan berutang lebih dulu dan melunasi setelah mendapatkan hasil tangkapan, namun kondisi ini menjadi beban ketika hasil tangkapan tidak mencukupi.

"Ketika sirkulasi pembayaran tersendat, subpenyalur juga kesulitan. Alhasil nelayan terpaksa membeli BBM non-subsidi seperti Pertamax yang harganya bisa mencapai Rp12.500 per liter," katanya.

Ia mengatakan, nelayan Pantai Sadeng secara terbuka menyatakan harapan besar atas kehadiran SPBN yang lokasinya dekat dengan pelabuhan.

"Selama ini, mereka menghadapi keterbatasan akses BBM subsidi yang berdampak langsung pada operasional harian, terutama saat cuaca ekstrem atau saat tangkapan tidak maksimal," katanya.

Wahid mengatakan, selama ini DKP Kabupaten Gunungkidul telah mengupayakan pengadaan SPBN melalui proses penyiapan lahan yang jaraknya tidak jauh dari Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng.

"Saat ini proses tersebut sudah memasuki tahap penyelesaian verifikasi dan validasi proposal di Kementerian Kelautan dan Perikanan sekaligus pengajuan izin Gubernur DIY dalam penggunaan Tanah Kas Kalurahan. Prinsipnya, kami sudah siapkan lokasi yang strategis dan sedang dalam proses perizinan ke dinas terkait, termasuk di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang maupun di Dinas Lingkungan Hidup," katanya.

Ia mengatakan, potensi produksi ikan tangkap di Gunungkidul terbilang signifikan. Dari total produksi perikanan tangkap di DIY yang mencapai 5.000 ton lebih per tahun, Sadeng menyumbang sekitar 3.000 ton.

"Namun, kebutuhan BBM belum sepenuhnya dapat terpenuhi. Realisasi konsumsi BBM jenis pertalite oleh nelayan Gunungkidul di tahun 2024 baru mencapai 873 kiloliter. Oleh karena itu, kami mengusulkan peningkatan kuota menjadi 1.968 kiloliter untuk tahun 2025," katanya.

Berdasarkan data Dinas, jumlah nelayan pemilik kapal di Gunungkidul mencapai 72 orang, dengan sekitar 500 awak buah kapal (ABK).

Terdapat 187 perahu jenis jungkung dengan bobot di bawah 5 Gross Ton (GT) yang menggunakan pertalite dan pertamax, 34 sekoci 5–30 GT yang menggunakan solar, serta 9 kapal di atas 30 GT yang juga memerlukan BBM bersubsidi.

“Kami berharap SPBN yang dikelola koperasi mampu menjadi solusi jangka panjang atas persoalan distribusi BBM, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nelayan," katanya.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.