Yogyakarta (ANTARA) - Alfian Muhazir, Pakar Komunikasi Politik dari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta menilai akar masalah dimulai ketika Bupati Pati dengan sengaja menantang masyarakat di depan media dan pernyataan kontroversial tersebut memicu gelombang demo pertama pada 13 Agustus 2025.
"Blunder komunikasi politik ini menjadi titik awal permasalahan. Ketika Bupati menantang langsung masyarakat, itu adalah kesalahan besar dalam memahami situasi. Seharusnya, seorang pejabat bisa lebih bijak dalam melihat kondisi yang ada, bukan justru terpancing emosi," jelas Alfian, di Yogyakarta, Kamis (21/8/2025).
Menurut Alfian, komunikasi politik berperan penting dalam membangun jejaring sosial yang luas. Pernyataan yang disampaikan di depan media adalah tantangan langsung terhadap masyarakat yang memiliki dampak luar biasa.
"Apa yang diucapkan bisa menyebar dengan cepat, menciptakan persepsi negatif yang sulit dikendalikan," tambahnya.
Baca juga: Mendagri ingatkan warga Pati tak anarkis jika ingin kembali unjuk rasa
Lebih jauh, Alfian menyoroti kegagalan Bupati Pati dalam membaca kondisi ekonomi dan sosial masyarakat saat itu. Menurutnya, psikologi masyarakat harus diperhatikan dengan cermat, terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang.
"Masyarakat sedang mengalami tekanan ekonomi yang berat. Kebijakan yang datang dari pemerintah tentu sangat memengaruhi psikologi mereka. Seorang pemimpin harus memahami ini sebelum berbicara," tegasnya.
Pakar komunikasi ini juga menegaskan pentingnya seorang pejabat untuk tidak terbawa emosi dalam berkomunikasi dengan publik.
Baca juga: Dinkes Pati-Jateng: terdapat 64 korban luka saat unjuk rasa
"Emosi yang tidak terkontrol akan merusak penilaian dan menyebabkan pernyataan yang tidak tepat sasaran. Itulah yang terjadi pada Bupati Pati," ungkap Alfian.
Peristiwa ini telah memicu serangkaian demonstrasi sejak 13 Agustus dan diprediksi akan terus berlanjut hingga demo besar pada 25 Agustus mendatang. Proses pansus hak angket DPRD Pati yang sedang berjalan semakin memperburuk situasi politik yang tak kunjung reda.
Menurut Alfian, pemahaman terhadap psikologi massa menjadi kunci sukses dalam komunikasi politik, terutama ketika masyarakat berada dalam tekanan ekonomi. "Pernyataan yang tidak sensitif bisa memperburuk keadaan dan menambah ketegangan," tambahnya.
Baca juga: Istana: Presiden Prabowo sayangkan situasi di Pati
Baca juga: Unjuk rasa warga di Pati berlangsung anarkis bakar mobil
