Mahasiswa miliki peran strategis bela negara di masa post-truth

id Unisa,yogyakarta,stadium general ,mahasiswa,strategi,peran,bela negara,era, post truth

Mahasiswa miliki peran strategis bela negara di masa post-truth

Stadium General pada Masa Ta’aruf (Mataf) 2025 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, dengan tema Peran Strategis Mahasiswa dalam Upaya Bela Negara di Era Post-Truth, di Yogyakarta, Selasa (16/9/2025). ANTARA/Rini Juliana

Yogyakarta (ANTARA) - Mahasiswa memiliki peran strategis dalam bela negara di masa post-truth, karenanya literasi digital sangat penting agar mereka tidak mudah menyebarkan informasi tanpa tahu kebenarannya, lebih kritis, menelusuri fakta, serta memastikan kebenaran sebelum membagikan sebuah informasi ke ranah digital.

"Kita harus memiliki kesadaran untuk bela negara. Jangan, ah saya tidak mau, saya cuma mahasiswa. Dengan kalian belajar rajin, tekun, dan mematuhi peraturan lalu lintas, itu kalian sudah menerapkan prinsip bela negara," kata Kompol Leo Nisya Sagita, Kasubditbintibsos Ditbinmas Polda DIY, di Yogyakarta, Selasa (16/9/2025).

Hal itu disampaikan Kompol Leo Nisya Sagita yang menjadi pemateri pada Stadium General pada Masa Ta’aruf (Mataf) 2025 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, dengan tema Peran Strategis Mahasiswa dalam Upaya Bela Negara di Era Post-Truth.

Baca juga: Unisa Yogyakarta berdayakan warga melalui pelatihan kesehatan dan ekonomi kreatif

Kompol Leo Nisya Sagita menjelaskan istilah dari era post-truth merujuk pada kondisi saat ini, dimana opini publik lebih berpengaruh daripada fakta objektif dalam membentuk pandangan masyarakat. Hal ini, menjadi tantangan yang besar di Indonesia yaitu bagaimana mahasiswa mencari informasi dan menjaga integritas bangsa di tengah arus informasi yang tidak jelas kebenarannya.

Disinformasi dan hoaks bukan lagi isu kecil, lanjut Kompol Eko Nisya Sagita, apalagi berdasarkan penelitian Lemhannas RI pada tahun 2024 tercatat sebanyak 39 persen mahasiswa di Indonesia terpapar paham radikal.

Banyak di antaranya mulai percaya pada ideologi radikalisme setelah mengonsumsi konten-konten digital yang berisi provokasi, manipulasi video, hingga propaganda yang disebarkan melalui media digital.

Contoh nyata kejadian bahwa ideologi radikal dapat berubah menjadi tindakan nyata yang dapat mengancam keamanan negara, kasus radikalisme yang berujung anarkisme dapat dilihat pada peristiwa penyerangan terhadap fasilitas kepolisian di Polda DIY beberapa waktu lalu.

Baca juga: Unisa Yogyakarta serukan transparansi penegakan hukum pasca- tragedi unjuk rasa

"Ruang SPKT atau ruang pelayanan publik kami (Polda DIY, red.) kami dibakar. Nah, di situlah itu bisa dipastikan bahwa pelaku-pelakunya adalah orang yang sudah terpapar oleh paham-paham anarkisme dan radikalisme," katanya.

Ia mengingatkan mahasiswa akan peran penting mereka dalam menjaga keutuhan bangsa, yakni tidak hanya pencari ilmu, tetapi juga agen perubahan yang memegang kunci ketahanan negara.

Selain sebagai agen perubahan, mahasiswa juga berfungsi sebagai iron stock, cadangan kekuatan bangsa, karena bela negara bukan hanya tanggung jawab TNI dan Polri, tetapi juga kewajiban setiap warga negara, termasuk mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, Kompol Leo Nisya Sagita menggarisbawahi empat unsur bela negara yang harus dimiliki mahasiswa, yakni: Cinta Tanah Air: Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa; Kesadaran Berbangsa dan Bernegara: Mengutamakan persatuan dalam keragaman; Kekuatan Moral: Menjaga integritas bangsa dengan berpegang pada nilai-nilai Pancasila; dan Kontrol Sosial: Memastikan jalannya pemerintahan dan demokrasi tetap berjalan dengan baik.

Baca juga: Pakar: Delapan program prioritas RAPBN 2026 selaras Asta Cita

Lebih lanjut, pendidikan kewarganegaraan perlu diperkuat melalui berbagai kegiatan akademik dan sosial yang menanamkan nilai-nilai Pancasila. Kegiatan seperti diskusi, workshop, hingga festival budaya dapat menjadi sarana untuk memperkuat rasa kebangsaan dan mengimbangi derasnya konten negatif di media sosial.

Kompol Leo Nisya Sagita juga mengingatkan bahwa peran mahasiswa adalah sebagai kunci utama dalam bela negara. Mahasiswa harus menunjukkan komitmen untuk bela negara, tidak hanya dengan belajar dan mengikuti aturan, tetapi juga dengan aktif menciptakan konten positif di dunia maya.

Baca juga: Dosen Unisa tanggapi rencana pemerintah tambah utang Rp781,87 triliun

Baca juga: Dosen Unisa Yogyakarta: Tom Lembongcukup layak dapat abolisi

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.