Menteri Kebudayaan menyiapkan repatriasi koleksi kolonial dari Belanda

id Menteri Kebudayaan ,Repatriasi koleksi kolonial ,Fadli Zon

Menteri Kebudayaan menyiapkan repatriasi koleksi kolonial dari Belanda

Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan keterangan kepada wartawan usai peletakan batu pertama pengembangan Situs Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, Kamis (23/10/2025). ANTARA/Rahid Putra Laksana

Yogyakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa pemerintah sedang menyiapkan proses repatriasi sejumlah benda bersejarah asal Indonesia koleksi kolonial dari Belanda.

"Semua sedang berlangsung. Termasuk Keris Kiai Nogo Siluman punya Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, punyanya Sultan Madura. Banyak, semua yang sedang kita minta, dan sudah resmi, sudah ada daftarnya," kata Fadli Zon usai peletakan batu pertama pengembangan Situs Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, Kamis.

Menurut dia, tim repatriasi dari Kementerian Kebudayaan dijadwalkan akan berangkat ke Belanda pada November untuk bertemu dengan "Committee of Colonial Collections" guna membahas tahap pemulangan koleksi tersebut.

"Bulan depan tim repatriasi akan ke Belanda, bertemu dengan komite koleksi kolonial, untuk menjajaki tahap-tahap pemulangan benda-benda bersejarah itu," katanya.

Ia mengatakan, selain benda pusaka, pemerintah juga tengah memproses pemulangan koleksi Dubois termasuk fosil-fosil manusia purba.

Proses pengembalian benda pusaka dan koleksi kolonial harus melalui penelitian asal-usul atau provenance research untuk memastikan keaslian dan status kepemilikan.

"Mereka minta sebelum dipulangkan ada provenance research-nya, ada riset yang membuktikan bahwa benda itu memang dari Indonesia dan dibawa pada masa kolonial secara tidak sah. Tapi kalau terbukti itu hadiah, kita memang tidak bisa minta kembalikan," katanya.

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.