Paniradya: Nilai keistimewaan DIY tertanam sejak kecil

id Keistimewaan DIY ,Tertanam sejak kecil ,Nilai nilai kebudayaan

Paniradya: Nilai keistimewaan DIY tertanam sejak kecil

Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Urusan Keistimewaan Paniradya Keistimewan DIY Tri Agus Nugroho dalam Live Talkshow "Lost in Jogja: Menemukan Ruang di Budaya yang Istimewa" di Teras Malioboro Beskalan, Yogyakarta, Jumat (7/11/2025). ANTARA/Indra Kurniawan

Yogyakarta (ANTARA) - Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Urusan Keistimewaan dari Paniradya Keistemewan Daerah Istimewa Yogyakarta Tri Agus Nugroho mengatakan bahwa keistimewaan DIY bukan hanya soal undang-undang tetapi nilai yang telah tertanam sejak masa kecil dalam kehidupan masyarakat.

"Secara Undang-Undang kita memiliki UU Nomor 13 tahun 2012 Tentang Pengukuhan Keistimewaan DIY. Tetapi di satu sisi kita memang sudah memiliki nilai-nilai keistimewaan itu sendiri," kata Agus di Teras Malioboro Yogyakarta, Jumat.

Agus mengatakan, meski DIY telah diakui melalui UU tersebut, namun nilai-nilai yang mendasari keistimewaan telah ada jauh sebelumnya yang ditanamkan melalui tradisi dan kebiasaan dalam masyarakat.

Salah satu aspek yang menggambarkan hal tersebut, kata Agus, adalah kebiasaan orientasi wilayah menggunakan arah mata angin yang diajarkan kepada anak-anak Yogyakarta sejak kecil, seperti utara (ngalor/lor), timur (ngetan/wetan), barat (ngulon/kulon), dan selatan (ngidul/kidul).

"Kami sejak kecil sudah diajarkan mengorientasikan diri berdasarkan arah mata angin, bukan kiri-kanan. Itu adalah bagian dari identitas kami sebagai orang Yogyakarta," katanya.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti kawasan sumbu filosofis yang menghubungkan berbagai bangunan penting di Yogyakarta, seperti Keraton, Tugu, Panggung Krapyak, dan Gunung Merapi, yang menjadi simbol filosofi hidup masyarakat DIY.

Menurut dia, kawasan ini menggambarkan keterkaitan erat antara nilai-nilai budaya dan kehidupan sosial masyarakat yang telah ada jauh sebelum Yogyakarta resmi menjadi daerah istimewa.

"Nilai-nilai seperti sopan santun, tepa selira, dan kepekaan terhadap sesama sudah tertanam kuat dalam masyarakat. Ini adalah dasar yang menguatkan keistimewaan Yogyakarta," katanya.

Dia mengatakan, bahwa masyarakat Yogyakarta juga dikenal dengan ikatan sosial yang kuat, terutama di kalangan masyarakat daratan, yang cenderung lebih solid dan saling mendukung.

"Hubungan antarwarga di Yogyakarta terjalin erat, dan ini menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan sosial kami," kata Agus.

Bagi Agus, keistimewaan DIY bukan hanya sebuah pengakuan formal melalui undang-undang, tetapi merupakan sebuah warisan nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakatnya sejak dulu.

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.