Jakarta (ANTARA) - Kisah panjang jajaran tiang monorel yang mangkrak di Jalan HR Rasuna Said akhirnya sampai pada bab akhir. Setelah puluhan tahun nasib tiang yang berdiri di tengah jalan itu tak menentu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo membuatkan cerita penutup untuk besi-besi yang sudah menua itu.
Pada Mei 2025, Pramono pertama kali menyampaikan kepada khalayak bahwa ia akan segera membongkar tiang-tiang monorel mangkrak di Jalan Rasuna Said. Menurut dia, keberadaan tiang monorel yang mangkrak itu sangat mengganggu keindahan Jakarta.
Oleh karena itu, dia ingin segera menyelesaikan masalah hukum yang ada dan merapikan tiang-tiang itu.
"Saya terus terang gatal. Gatal itu apa ya? Berkeinginan banget untuk menyelesaikan itu,” kata Pramono kala itu.
Atas tekadnya tersebut, Pramono pun menempuh berbagai cara untuk membersihkan tiang monorel tersebut demi mempercantik ibu kota. Salah satunya, Pramono datang dan berkonsultasi dengan Kejaksaan Tinggi Jakarta hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Awal mula pembangunan
Semua berawal dari keinginan Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007 Sutiyoso untuk memecah persoalan kemacetan ibu kota saat itu. Pria yang akrab disapa Bang Yos ini menceritakan bahwa pada 2003, ia mulai mengumpulkan pakar-pakar transportasi dari berbagai universitas.
Tujuannya untuk merancang jaringan transportasi makro ibu kota. Tak hanya itu, ia pun melakukan studi banding ke beberapa negara. Di antaranya Bogota, ibu kota Kolombia. Sebab situasi kota itu dinilai sama dengan Jakarta.
Akhirnya, Sutiyoso pun memutuskan jaringan transportasi ibu kota akan terdiri atas empat moda. Moda yang paling besar adalah MRT di bawah tanah, lalu ada monorel di atas, busway 15 koridor di bawah, hingga ada alternatif yang dinamakan waterway.
Meski memiliki jalur masing-masing, Sutiyoso merencanakan moda transportasi itu akan terintegrasi. Sehingga penduduk Jakarta dan sekitarnya dapat dengan mudah berpergian dari titik satu ke titik lainnya.
Sutiyoso mengatakan, cukup sulit mendapatkan investor pada masa itu. Sebab, kondisi sosial ekonomi saat itu belum mapan akibat kerusuhan Mei tahun 1998.
Kerusuhan Mei 1998 dinilai sangat berdampak pada tingkat kepercayaan investor terhadap Indonesia, lebih khusus lagi Jakarta.
