Jakarta (ANTARA) - Tekanan permainan cepat pasangan Prancis Thom Gicquel/Delphine Delrue sempat memicu konflik internal di kubu ganda campuran Indonesia Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu pada perempat final BWF World Tour Super 500 Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat.
Meski akhirnya menang melalui pertarungan tiga gim dengan skor 13-21, 22-20, 21-16, Jafar/Felisha harus bekerja keras untuk keluar dari pola permainan agresif lawan, terutama setelah interval gim pertama. Kondisi angin di dalam arena serta intensitas tekanan membuat pasangan Indonesia kesulitan mengembangkan permainan.
“Di gim pertama setelah interval mereka main cepat, kami juga kalah angin. Mereka terus menekan dan kami sempat bingung untuk keluar dari pola itu,” ujar Jafar seusai pertandingan.
Menurut Jafar, situasi tersebut membuat komunikasi di lapangan berlangsung cukup keras. Ia mengaku sempat berbicara tegas kepada Felisha terkait pengaturan tempo dan posisi bermain agar tidak terus tertekan oleh kecepatan serangan lawan.
“Saya agak keras menyampaikan ke Felisha soal tempo. Saya minta tidak terlalu mundur dan berani main di bawah. Lawan punya pemain putra dengan sambungan bola yang sangat cepat,” kata Jafar.
Meski diwarnai ketegangan, Jafar menegaskan komunikasi tersebut justru membantu mereka bangkit dan menemukan kembali ritme permainan. Pasangan Indonesia kemudian mampu memaksakan rubber game dan menutup pertandingan dengan kemenangan.
Felisha menyebut laga tersebut menjadi ujian mental karena pasangan Prancis tampil solid dan konsisten dalam menekan sejak awal.
“Puji Tuhan, saya bersyukur bisa ke semifinal tanpa cedera apa pun dan bisa keluar dari tekanan dengan hasil yang baik,” ujar Felisha.
Ia mengakui pola permainan lawan menyulitkan mereka dan tidak mudah untuk segera keluar dari tekanan tersebut.
“Match tadi tidak mudah karena lawan bermain sangat baik. Pola mereka menyulitkan kami dan untuk keluar dari pola itu juga tidak gampang,” katanya.
Felisha menambahkan, daya juang, komunikasi, dan rasa tidak mau kalah menjadi kunci untuk kembali mengontrol pertandingan, terutama setelah kehilangan gim pertama.
“Di gim pertama kami terus digerebek setelah interval. Di gim kedua awalnya masih terbawa, tapi komunikasi dan rasa tidak mau kalah itu yang membuat kami bisa kembali mengendalikan pertandingan,” ujarnya.
Menatap semifinal, Jafar/Felisha menegaskan fokus utama mereka adalah pemulihan kondisi dan evaluasi strategi, tanpa terbebani status unggulan maupun calon lawan.
Di semifinal, Jafar/Felisha akan menghadapi pemenang pertandingan antara unggulan kelima asal China Guo Xin Wa/Chen Fang Hui melawan wakil Denmark Mathias Christiansen/Alexandra Boje.
“Semua lawan tidak ada yang mudah. Kami pernah menang dan kalah. Sekarang fokus recovery dan evaluasi game plan agar besok bisa tampil lebih baik,” kata Jafar.
Felisha menambahkan pentingnya menjaga komunikasi terbuka agar tekanan tidak menumpuk selama pertandingan.
“Lebih baik tetap ekspresif dan disampaikan langsung, jangan ditahan-tahan supaya tidak menumpuk,” ujarnya.
Meski baru memastikan tempat di semifinal, Jafar/Felisha menegaskan target tetap mengarah pada gelar juara di Indonesia Masters 2026.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Tekanan lawan picu ketegangan Jafar/Felisha di Indonesia Masters 2026
