Probolinggo (ANTARA) -
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Pendopo Pate Alos di Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Minggu (25/1), sebagai bagian dari upaya pemanfaatan bangunan bersejarah pascarevitalisasi.
Peresmian tersebut menandai pemanfaatan kembali Pendopo Pate Alos, bangunan peninggalan kolonial yang sebelumnya dikenal sebagai Kawedanan Besuki, sebagai ruang publik berbasis kebudayaan.
“Budaya tidak hanya dilindungi, tetapi juga perlu dikembangkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan,” kata Fadli dalam sambutannya.
Ia mengatakan pemajuan kebudayaan merupakan amanat konstitusi sebagaimana tercantum dalam Pasal 32 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945. Menurut dia, bangunan bersejarah yang direvitalisasi dapat berfungsi sebagai pusat kebudayaan, pusat edukasi, dan ruang pembelajaran bagi masyarakat.
Fadli menyebut wilayah Besuki memiliki nilai historis penting. Pendopo Pate Alos menjadi saksi perjalanan Besuki sebagai pusat administrasi pada masa kolonial. Oleh karena itu, revitalisasi bangunan tersebut tidak dimaknai sebatas pemugaran fisik.
“Revitalisasi ini bertujuan agar warisan sejarah tetap hidup dan terawat untuk generasi sekarang dan mendatang,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk mempercepat registrasi cagar budaya nasional serta mendorong pengembangan Pendopo Pate Alos sebagai museum yang merekam sejarah Karesidenan Besuki, yang pada masa lalu mencakup lima wilayah kabupaten.
Menurut Fadli, Pendopo Pate Alos diharapkan dapat menjadi ruang publik yang inklusif, pusat aktivitas kebudayaan, serta destinasi wisata budaya yang mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitar kawasan.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan peresmian tersebut menjadi dukungan bagi upaya pelestarian dan penghidupan kembali warisan sejarah di daerahnya.
Peresmian Pendopo Pate Alos turut dihadiri Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah, Wakil Bupati Probolinggo Fahmi Abdul Haq Zaini, Ketua DPRD Situbondo Mahbub Junaidi, jajaran pemerintah daerah, serta tokoh masyarakat dan komunitas budaya.
Menteri Kebudayaan didampingi Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono, Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Sjamsul Hadi, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur Endah Budi Heryani.
