IDAI: Kawasaki pada anak bisa picu gangguan jantung

id kawasaki,penyakit kawasaki,kawasaki anak,gangguan jantung,gangguan jantung anak

IDAI: Kawasaki pada anak bisa picu gangguan jantung

Ilustrasi - Pasien anak penderita demam berdarah dengue (DBD) menjalani perawatan di RSUD Loekmono Hadi, Kudus, Jawa Tengah, Senin (5/2/2024). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/am.

Jakarta (ANTARA) -

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyakit Kawasaki pada anak karena dapat menimbulkan komplikasi serius pada pembuluh darah jantung jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Dokter spesialis anak dan kardiologi anak sekaligus Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed) menjelaskan penyakit Kawasaki merupakan peradangan pembuluh darah sistemik yang dapat menyerang berbagai organ, namun, dampak paling berbahaya terjadi pada arteri koroner yang memasok darah ke jantung.

"Komplikasi yang paling kita khawatirkan adalah pelebaran atau aneurisma arteri koroner. Kalau tidak diobati, risikonya bisa terjadi pada sekitar 15 sampai 25 persen pasien," kata Najib dalam seminar daring IDAI bertema Kawasaki pada anak yang diikuti dari Jakarta, Selasa.

Arteri koroner berperan penting dalam menyuplai darah dan oksigen ke otot jantung. Jika pembuluh tersebut mengalami pelebaran dan gangguan aliran, darah dapat membeku dan memicu serangan jantung meski pada usia anak.

Penyakit Kawasaki pertama kali dilaporkan di Jepang pada 1967 oleh dokter Tomisaku Kawasaki. Hingga kini penyebab pastinya belum diketahui, namun, diduga berkaitan dengan infeksi dan faktor genetik.

"Ini adalah vaskulitis sistemik atau peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh. Bisa mengenai banyak bagian, tapi yang menentukan keselamatan pasien adalah keterlibatan pembuluh darah jantung,” ujar profesor yang juga dikenal sebagai Bapak Kawasaki Indonesia itu.

Secara global, kata Najib, lebih dari satu juta kasus Kawasaki telah tercatat. Di Indonesia, Najib mulai melakukan sosialisasi dan penanganan sejak 1999 dan telah menangani lebih dari 2.000 kasus.

Najib, yang terhimpun dalam Unit Kerja Koordinasi Kardiologi IDAI, juga menilai penyakit itu sering dianggap langka, padahal jumlah kasus cukup banyak dan berpotensi tidak terdiagnosis. Keterlambatan diagnosis membuat anak datang dalam kondisi sudah terjadi kelainan koroner.

Dia menambahkan, dengan terapi yang diberikan lebih awal, risiko kelainan arteri koroner dapat ditekan hingga sekitar dua sampai tiga persen. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua dan tenaga kesehatan terhadap gejala awal serta rujukan cepat kepada dokter anak dan kardiolog anak.

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.