Jakarta (ANTARA) - Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengingatkan pemilik kendaraan untuk tidak langsung menggunakan mobil atau sepeda motor secara normal setelah perjalanan mudik jarak jauh tanpa pemeriksaan awal.
“Boleh langsung dipakai, asalkan kendaraan tidak menunjukkan gejala aneh dan dilakukan pengecekan cepat terlebih dahulu,” kata Yannes ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.
Yannes menjelaskan, perjalanan mudik dengan jarak di atas 500 kilometer umumnya membuat kendaraan bekerja lebih berat, mulai dari kondisi muatan berlebih, suhu mesin tinggi, kemacetan stop and go, hingga paparan hujan dan jalan berlubang.
Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi menimbulkan keausan komponen yang tidak langsung terasa.
Untuk itu, sebelum digunakan kembali ke aktivitas seperti bekerja, pemilik kendaraan disarankan melakukan pemeriksaan singkat selama sekitar 10 menit.
Pemeriksaan meliputi memastikan tidak ada tetesan cairan di area parkir, mengecek tekanan ban saat kondisi dingin, serta memeriksa kondisi fisik ban dari potensi paku, benjolan, atau retakan.
Pemilik kendaraan juga perlu menguji rem secara perlahan untuk memastikan tidak terasa ngempos dan tidak menimbulkan getaran.
Selain itu, komponen lain seperti lampu dan wiper juga perlu dipastikan berfungsi normal.
“Jika semuanya normal, kendaraan bisa digunakan terlebih dahulu untuk perjalanan pendek selama satu hingga dua hari sambil memantau suara dan getaran. Jika muncul gejala yang tidak biasa, sebaiknya jangan dipaksakan,” ujarnya.
Yannes juga menekankan pentingnya pemeriksaan lanjutan pada sepeda motor setelah mudik, terutama pada aspek keselamatan dan keandalan.
Beberapa komponen yang perlu dicek antara lain kondisi ban, rem, oli, serta sistem penggerak seperti rantai dan sprocket untuk motor bebek atau sport, maupun CVT pada motor matik.
Menurut dia, tanda-tanda motor perlu segera dibawa ke bengkel antara lain rem terasa ngempos atau menimbulkan bunyi gesek tajam, getaran berlebih pada kecepatan menengah, stang terasa tidak stabil, hingga mesin cepat panas atau mengeluarkan suara kasar.
“Gejala lain seperti CVT selip, rantai berbunyi keras meski sudah disetel, atau oli cepat berkurang juga menjadi indikator adanya risiko keselamatan,” katanya.
Lebih lanjut, Yannes menyebut servis besar perlu dipertimbangkan apabila kendaraan mengalami penggunaan ekstrem selama mudik, seperti perjalanan jauh dengan beban berat, kemacetan panjang, atau melintasi jalan rusak.
Pada mobil, ciri-ciri yang perlu diwaspadai meliputi setir bergetar pada kecepatan tertentu, adanya bunyi dari kolong, rem tidak pakem, hingga suhu mesin yang mudah naik atau transmisi terasa menghentak.
Sementara pada motor, indikasi meliputi ban aus tidak merata, shockbreaker bocor, hingga performa mesin yang menurun dan boros bahan bakar.
Ia menambahkan, kendaraan berusia di atas lima tahun atau yang terlambat menjalani servis rutin sebelum mudik sebaiknya segera menjalani servis besar setelah perjalanan.
“Servis besar pascamudik biasanya lebih aman dan ekonomis dibanding menunggu kerusakan yang lebih parah,” pungkas Yannes.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Cek ringan kendaraan usai mudik sebelum kembali dipakai harian
