Sekjen PBB: Hentikan konflik Timur Tengah

id Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres,konflik Timur Tengah,Iran,AS,Israel,deeskalasi konflik

Sekjen PBB: Hentikan konflik Timur Tengah

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (ANTARA/Anadolu/py/am.)

Perserikatan Bangsa-Bangsa (ANTARA) - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak deeskalasi dan penghentian konflik, di tengah operasi militer gabungan AS-Israel yang terus berlangsung terhadap Iran.

"Kita berada di ambang perang yang lebih luas yang akan melanda seluruh Timur Tengah dengan dampak dramatis di seluruh dunia... Jika genderang perang terus berbunyi, eskalasi hanya akan memperburuk dampak konflik ini,” kata Guterres dalam konferensi pers, Kamis.

“Lingkaran kematian dan kehancuran harus dihentikan," ujar dia, menegaskan.

Ia pun menegaskan perlunya dukungan untuk keberhasilan upaya penyelesaian konflik secara damai.

Guterres mengulangi seruannya kepada AS dan Israel untuk menghentikan serangan yang telah menyebabkan "penderitaan manusia yang luar biasa" dan mengakibatkan "konsekuensi yang menghancurkan".

Baca juga: Jepang-RI siap kerja sama atasi dampak konflik Timur Tengah

Baca juga: Trump siap akhiri operasi Iran meski Selat Hormuz belum dibuka

Dia juga meminta Iran untuk menahan diri dari melakukan serangan balasan lebih lanjut di Teluk Persia.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Eskalasi di sekitar Iran telah menyebabkan blokade Selat Hormuz—jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global—hingga memicu kenaikan harga energi.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti





Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sekjen PBB: Hentikan konflik Timur Tengah

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.