
Ludruk di simpang zaman

Surabaya (ANTARA) - Riuh tawa pecah di sebuah panggung sederhana di sudut kota. Seorang pelawak melontarkan parikan, disambut celetukan khas yang mengundang gelak penonton. Di sela humor itu, terselip kritik sosial yang tajam, kadang getir, namun selalu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Itulah ludruk, seni pertunjukan khas Jawa Timur yang lahir dari rakyat, tumbuh bersama rakyat, dan sejatinya berbicara untuk rakyat.
Di Kota Surabaya, ludruk bukan sekadar tontonan. Ia adalah cermin sosial, ruang ekspresi, sekaligus medium komunikasi yang pernah begitu kuat pada masanya.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan selera hiburan, eksistensi ludruk kini berada di persimpangan, yakni antara bertahan sebagai warisan atau bertransformasi menjadi bagian dari masa depan.
Pertanyaannya, bukan lagi apakah ludruk masih hidup, tetapi sejauh mana ia mampu beradaptasi, tanpa kehilangan jiwanya.
Romantisme dan realitas
Sejarah mencatat, ludruk pernah menjadi primadona hiburan masyarakat urban Surabaya. Pada dekade 1970 hingga 1990-an, pertunjukan ludruk berlangsung hampir setiap malam di berbagai panggung, termasuk di kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR).
Lakon-lakon, seperti “Sarip Tambak Oso” menjadi legenda yang tak lekang oleh waktu, mengisahkan perlawanan rakyat kecil dengan bahasa yang lugas dan membumi.
Kini, lanskap itu berubah drastis. Modernisasi membawa ragam hiburan baru yang lebih cepat, instan, dan visual. Televisi, media sosial, hingga platform digital menggeser pola konsumsi masyarakat. Ludruk, dengan durasi panjang dan format tradisionalnya, perlahan kehilangan panggung reguler.
Data lapangan menunjukkan kondisi yang tidak sederhana. Banyak kelompok ludruk di Surabaya masih tercatat secara administratif, tetapi tidak semuanya aktif. Sebagian mengalami “mati suri” akibat keterbatasan anggota, minimnya panggilan pentas, hingga persoalan ekonomi yang membuat regenerasi tersendat.
Di sisi lain, harapan tetap menyala. Sejumlah kelompok ludruk justru menunjukkan daya tahan dengan melakukan regenerasi. Anak-anak muda mulai dilibatkan, bahkan dari tingkat sekolah dasar, hingga mahasiswa. Upaya ini menjadi sinyal bahwa ludruk belum sepenuhnya kehilangan relevansi.
Fenomena menarik juga terlihat dari dukungan pemerintah kota. Program, seperti pementasan keliling kampung, hingga pelibatan ludruk dalam kegiatan publik menunjukkan adanya ruang yang masih terbuka. Bahkan, dalam konteks tertentu, ludruk digunakan sebagai media komunikasi kebijakan, seperti sosialisasi program pembangunan.
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
