Logo Header Antaranews Jogja

Rp50 ribu untuk jaga nyawa di perlintasan sebidang

Selasa, 5 Mei 2026 06:30 WIB
Image Print
Seorang pedagang kerupuk berhenti di perlintasan kereta sebidang saat KRL melintas di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (4/5/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri/am.
 

Setiap beberapa menit, kereta KRL melintas dari arah Rangkasbitung maupun Tanah Abang. Di sela-sela itu, kendaraan terus berdatangan, terutama pada pagi hari ketika pelajar dan pekerja memadati jalan alternatif yang menghubungkan Ulujami dan Bintaro.

Di titik inilah ketegangan kerap terjadi. Ocim mengaku, tantangan terbesar bukan hanya kondisi infrastruktur, tetapi juga perilaku pengendara.

“Kadang sudah di-setop, masih saja nerobos,” katanya.

Menurutnya, banyak kecelakaan di perlintasan sebidang terjadi karena pengendara memaksakan diri melintas, bahkan ketika kereta sudah mendekat.

Ia pernah menyaksikan langsung sebuah mobil tertabrak kereta beberapa tahun lalu. Kendaraan itu sempat terpental, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

“Itu sudah diingatkan, tapi tetap maksa,” ujarnya.

Peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur yang menewaskan belasan orang beberapa waktu lalu, bagi Ocim, bukanlah kejadian yang mengejutkan.

Baginya, tragedi seperti itu bisa terjadi kapan saja jika kewaspadaan diabaikan.

“Apes itu enggak ada di kalender,” katanya pelan. Matanya menatap jauh ke rel yang tak pernah benar-benar sepi dari ancaman.

Meski sering menghadapi situasi berisiko, Ocim tetap bertahan. Penghasilannya hanya berasal dari pemberian sukarela pengguna jalan, berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari.

Namun baginya, menjaga keselamatan jauh lebih penting daripada imbalan.

Di perlintasan itu, ia bukan sekadar penjaga jalan, melainkan garis terakhir antara hidup dan maut bagi banyak orang yang melintas.

Baca juga: Kronologi kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur

Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, baik dalam bentuk fasilitas maupun sistem peringatan tambahan seperti sirine atau tanda visual.

“Minimal ada tanda atau bunyi peringatan supaya orang tahu kereta mau lewat,” katanya.

Sosok seperti Ocim menjadi penjaga sunyi yang bekerja tanpa sorotan.

Setiap hari dia berdiri di tepi rel, menahan laju kendaraan, mengangkat tangan memberi isyarat, dan berharap semua yang melintas bisa sampai tujuan dengan selamat.

Sebab baginya, satu nyawa yang terselamatkan adalah alasan untuk tetap bertahan.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026