Logo Header Antaranews Jogja

Rp50 ribu untuk jaga nyawa di perlintasan sebidang

Selasa, 5 Mei 2026 06:30 WIB
Image Print
Seorang pedagang kerupuk berhenti di perlintasan kereta sebidang saat KRL melintas di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (4/5/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri/am.

Jakarta (ANTARA) - Perlintasan sebidang di dekat Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menjadi titik awal sekaligus akhir hari bagi Ocim (53) dalam mencari nafkah.

Ia bukan bekerja di dalam kantor dengan mengenakan lanyard sembari diterpa dinginnya pendingin ruangan. Cukup dengan kaos sederhana dan kepekaan membaca arah angin, Ocim mampu mengantongi sekitar Rp50 ribu setiap harinya.

Telinganya seolah-olah telah kebal terhadap bising deru kendaraan bermotor yang bersahutan dengan gemuruh kereta yang hilir-mudik tanpa jeda.

Sorot matanya tetap terlihat tajam di bawah terik matahari yang tak kalah panas, menandingi kerasnya tanggung jawab yang ia pikul.

Seorang pedagang kerupuk berhenti di perlintasan kereta sebidang saat KRL melintas di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (4/5/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri/am.

Selama lebih dari 15 tahun, Ocim menjaga perlintasan itu secara swadaya. Tanpa gaji tetap, tanpa perlengkapan memadai, dan tanpa jaminan keselamatan, ia bersama sembilan rekannya bergantian berjaga demi satu tujuan yakni mencegah kecelakaan di depan mata.

“Orang tahunya kami digaji, padahal tidak. Ini swadaya masyarakat saja, supaya tidak ada kejadian,” kata Ocim.

Perlintasan yang dijaganya bukanlah jalur resmi dengan fasilitas lengkap. Tidak ada palang otomatis, tidak ada sirine, bahkan pos jaga yang dulu pernah berdiri kini telah hilang. Yang tersisa hanyalah dua batang besi bekas palang yang tak lagi berfungsi.

Di tengah keterbatasan itu, Ocim hanya mengandalkan insting. Ia membaca tanda-tanda kedatangan kereta dari suara klakson, getaran kabel, hingga intuisi yang terlatih selama bertahun-tahun.

“Kami harus jeli. Kadang suara enggak kedengeran, jadi lihat kabel bergerak,” ujarnya.

Tugas itu tidak ringan lantaran jalur rel di lokasi tersebut berkelok, membuat pandangan terbatas. Dalam kondisi tertentu, kereta bisa datang tanpa terlihat dari kejauhan.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026