Logo Header Antaranews Jogja

"Tamasya" bukti keberpihakan pada pekerja perempuan

Rabu, 13 Mei 2026 06:35 WIB
Image Print
Direktur Bina Ketahanan Keluarga Balita dan Anak Kemendukbangga/BKKBN Fabiola Tazrina Tazir (kanan), Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kemendukbangga/BKKBN Nopian Andusti (kiri) dalam konferensi pers Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) sebagai salah satu solusi perbaikan tata kelola daycare di Indonesia pada Selasa (12/5/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyatakan Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) menjadi salah satu bukti keberpihakan pada pekerja perempuan.

Direktur Bina Ketahanan Keluarga Balita dan Anak Kemendukbangga/BKKBN Fabiola Tazrina Tazir dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa mengemukakan, Program Tamasya juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto saat peringatan Hari Buruh Internasional, ketika buruh menyampaikan aspirasi mengenai kebutuhan daycare.

"Program ini sebenarnya sudah mulai dijalankan Kemendukbangga sejak tahun lalu atas inisiasi menteri, untuk mendukung keberpihakan kepada perempuan bekerja," ujar dia.

Fabiola menegaskan, Indonesia saat ini berada pada masa bonus demografi dan salah satu syarat memanfaatkannya adalah dengan meningkatkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja. Menurutnya, daycare menjadi solusi agar perempuan dapat tetap bekerja tanpa mengabaikan kualitas pengasuhan anak.

"Saya pernah menjadi pengguna daycare dan merasakan manfaatnya, terutama bagi keluarga muda yang tidak memiliki support system. Empat layanan Tamasya menjadi nilai tambah dibandingkan daycare biasa," paparnya.

Baca juga: Kemendukbangga memperkuat perlindungan "daycare" melalui Program Tamasya

Baca juga: BKKBN sebut tiga ribu lebih tempat penitipan anak layani keluarga Indonesia


Tamasya juga menjadi salah satu penilaian penting dalam PROPER, atau program penilaian kinerja perusahaan di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) atas advokasi dari Kemendukbangga/BKKBN.

"Kebijakan itu masih berlanjut pada 2026. Kementerian lain juga mulai mempertimbangkan memasukkan unsur Tamasya dalam penilaian program masing-masing, meski belum dituangkan dalam regulasi resmi," tuturnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kemendukbangga/BKKBN Nopian Andusti menegaskan, dalam penilaian pasar oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag), direncanakan keberadaan Tamasya menjadi salah satu indikator.

Berdasarkan data Kemendukbangga/BKKBN, jumlah dan pengasuh anak di Tamasya/TPA per bulan Maret 2026, mencapai 12.832 dengan rata-rata satu Tamasya/TPA terdapat 3-4 pengasuh, dengan jumlah anak terdata per Bulan Maret 2026 mencapai 59.286.

"Dalam Tamasya, kami berupaya menekankan bahwa pengasuhan anak tidak selesai hanya dengan menitipkan anak di daycare, tetapi orang tua juga harus memperoleh edukasi pengasuhan," ucap Nopian.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemendukbangga: "Tamasya" bukti keberpihakan pada pekerja perempuan



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026