
Ratusan warga Gunungkidul mendapat layanan periksa mata gratis

Yogyakarta (ANTARA) - Sebanyak 240 orang warga Gunungkidul mendapatkan layanan periksa mata gratis dalam agenda bakti sosial yang diselenggarakan di Kapanewon Girisubo.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, di Yogyakarta, Minggu, mengatakan tujuan dari acara tersebut adalah untuk menangani berbagai permasalahan sosial kesehatan mata di wilayah pelosok Gunungkidul.
"Respon masyarakat luar biasa, jumlah pendaftar mencapai 240 peserta, melampaui target awal yang ditetapkan sebanyak 200 peserta," kata Endah dalam keterangannya.
Menurutnya, masyarakat yang datang di agenda tersebut tidak hanya berasal dari Kapanewon Girisubo, tetapi juga wilayah sekitar seperti Kapanewon Rongkop.
"Apresiasi untuk semangat gotong royong dari institusi pendidikan dan kesehatan dalam membantu warga mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang lebih baik," kata Endah.
Ia menilai kesehatan mata merupakan anugerah terbesar dari Tuhan yang sering kali terabaikan oleh masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Endah mengajak agar masyarakat tidak menganggap remeh munculnya gejala mata kabur atau kelilipan.
"Penglihatan adalah pintu bagi anak-anak untuk belajar dengan baik dan bagi orang tua untuk tetap produktif bekerja," katanya.
Ketua Perdami Yogyakarta Firman Setya Wardhana menambahkan 80 persen penyebab kebutaan adalah gangguan penglihatan seperti katarak.
Gangguan tersebut, lanjutnya, membuat penderita sulit bekerja hingga bergantung pada orang lain yang menimbulkan dampak pada sektor ekonomi.
"Program kali ini mencakup tiga layanan utama skrining katarak, skrining pterigium (selaput mata),dan pemeriksaan kacamata gratis yang didukung penuh oleh dana zakat dari Baznas," kata Firman.
Menurutnya, terdapat tantangan berkaitan dengan layanan kesehatan mata di Gunungkidul, khususnya terkait keterbatasan jumlah dokter mata yang tidak lebih dari 10 dokter.
"Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin pendekatan layanan yang lebih dekat ke masyarakat, termasuk rencana program pendidikan kader dan guru sekolah untuk deteksi dini masalah mata di masa depan," katanya.
Tim medis, lanjut Firman, juga memberikan edukasi mengenai Myopia Week, khususnya kewaspadaan terhadap penggunaan gawai pada anak-anak dengan mengajak untuk menerapkan rumus 20-20-20.
"Setiap 20 menit melihat layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki, kemudian anak-anak disarankan bermain di luar ruangan minimal 2 jam sehari," katanya.
Salah satu peserta, Wariyem, mengatakan kegembiraannya bisa mengikuti pemeriksaan mata, bahkan ia juga mendapatkan fasilitas kacamata secara gratis.
"Karena saya ingin bisa baca Al Quran dengan jelas," kata Wariyem.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
