Logo Header Antaranews Jogja

Cerita indah tentang empat pelatih Liga Inggris

Sabtu, 23 Mei 2026 12:23 WIB
Image Print
Pelatih Manchester City Josep "Pep" Guardiola. (Manchester City)

Jakarta (ANTARA) - Liga Inggris musim ini dipenuhi kisah tentang euforia dan ekstasi, tapi juga kesedihan, dalam takaran lebih besar dari biasanya.

Semua kisah itu berpusat pada empat pelatih, yakni Mikel Arteta dari Arsenal, Unai Emery dari Aston Villa, Michael Carrick dari Manchester United, dan Pep Guardiola dari Manchester City.

Sebenarnya masih ada Oliver Glasner yang di ambang membawa Crystal Palace menjuarai kompetisi Eropa untuk pertama kali, Andoni Iraola yang mengantarkan Bournemouth untuk pertama kali bermain di level Eropa, dan Roberto de Zerbi yang ketiban sial menukangi Tottenham Hotspurs yang amburadul di ambang degradasi.

Tapi kisah tentang Arteta, Emery, Carrick, dan Guardiola, adalah yang paling menarik untuk didongengkan.

Keempat orang ini mengajarkan heroisme, inspirasi, dedikasi, dan inovasi serta kreativitas. Tapi, cuma kisah tentang Guardiola yang merupakan elegi.

Mari kita mulai dari Mikel Arteta.

Melalui proses panjang nan melelahkan, Arteta berhasil mengubah Arsenal dari tim yang kerap diejek karena sering kedodoran di akhir musim, menjadi klub juara dengan menjuarai lagi Liga Premier setelah 22 tahun menanti.

Dia, seperti luas diberitakan media massa Inggris, telah mengakhiri "era lelucon" dengan membuka mukadimah baru untuk kitab Arsenal, si klub juara.

Dia sudah masuk bursa calon manajer The Gunners pada 2018, tapi tersingkir oleh Unai Emery.

Perjalanannya mengubah Arsenal sangat berliku, sampai pernah terpikir hengkang akibat lingkungan yang toksik, favoritisme, dan penuh ego.

Namun sejak Juli 2021, atau dua tahun setelah resmi menjadi pelatih Arsenal, era baru muncul berbarengan dengan peta jalan yang dia bentangkan.

Saat itu dia bilang, agar Arsenal juara, skuad harus diisi pemain-pemain muda, rata-rata berusia 27 tahun.

Dia ingin tim yang bisa mudah dibentuk agar kohesi tercipta dan sekaligus meringankan beban keuangan manajemen karena gaji pemain muda biasanya tak terlalu tinggi.

Manajemen tertarik dengan idenya. Maka dilepaskanlah para superstar seperti Pierre Emerick-Aubameyang.

Sebaliknya jebolan akademi seperti Bukayo Saka dan Emile Smith-Rowe diupgrade ke level senior, bahkan pemain muda William Saliba yang dipinjamkan ke Prancis dibetot kembali ke Stadion Emirates.

Hasilnya mulai terasa awal musim 2022/2023.

Berikutnya dia meyakinkan manajemen untuk merekrut pemain-pemain yang kini instrumental bagi Arsenal, khususnya gelandang Declan Rice dan kiper David Raya.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026