Logo Header Antaranews Jogja

Cerita indah tentang empat pelatih Liga Inggris

Sabtu, 23 Mei 2026 12:23 WIB
Image Print
Pelatih Manchester City Josep "Pep" Guardiola. (Manchester City)

Melebihi sepak bola

Carrick membuat pendekatan yang drastis tapi humanis yang berbeda dari orang yang dia gantikan, Ruben Amorim.

Sejumlah pemain pun menjadi bersinar lagi dan berbalik menjadi kunci sukses United di separuh terakhir musim ini, salah satunya Kobbie Mainoo.

Resultante dari efek pendekatan Carrick itu adalah 11 kali menang dari 16 pertandingan. Ini rata-rata kemenangan yang tinggi, 68,75 persen.

Statistik itu tak hanya membuat United masuk lagi arena Liga Champions dan mengatrol posisi Setan Merah dari papan bawah ke papan atas, tapi juga membuat United optimistis menatap masa-masa setelah musim ini.

Kunci keberhasilan Crrick adalah kemampuan memulihkan suasana ruang ganti menjadi lebih positif dan cair sehingga semua pemain merasa bahagia, dihargai, dan akhirnya menaikkan lagi kepercayaan diri. Dia piawai mengendalikan pemain tanpa merendahkan mereka.

Pendekatannya yang pragmatis, sederhana, mengutamakan pemain dan keseimbangan, telah membuat United stabil, setidaknya dalam empat bulan terakhir ini.

Manajemen pun terlihat puas, dan akhirnya memberikan kepercayaan kepadanya untuk tidak lagi berstatus sementara, melainkan berpredikat pelatih permanen United.

Tapi kualifikasi paling lengkap tetap menjadi milik Pep Guardiola. Dia role model untuk siapa pun; untuk sesama pelatih, pemain, dan manajemen klub.

Guardiola juga tahu kapan harus berhenti, namun ketika tak sedang berhenti, dia akan terus meraih apa pun yang bisa dia raih. Dia berhasil dengan cara itu, bahkan di mana pun dia berkarya.

Visi, inteligensia, kreativitas, kepemimpinan, kharisma, dan profesionalismenya yang tinggi, membuatnya mendapatkan apa yang tak bisa didapat orang lain.

Dia tak pernah bentrok dengan manajemen, entah itu di Barcelona, Muenchen atau Manchester. Bahkan ketika manajemen City dirundung masalah hukum, dia tetap loyal.

Dia pemimpin yang hebat, sekaligus pegawai yang andal, bukan hanya karena keterampilannya, tapi juga loyalitasnya.

Tetapi berbeda dari kisah Arteta, Emery, dan Carrick, cerita tentang Guardiola musim ini adalah elegi untuk seorang perintis, pendobrak, pencipta kecenderungan, maestro, ikon, dan pahlawan, karena dia pergi sambil meninggalkan warisan-warisan agung untuk sepak bola Inggris.

Dia tak hanya telah menuliskan bab-bab baru nan lebih tebal dalam kitab sejarah Manchester City, tapi juga telah mewakafkan ilmu teramat bernilai dan langgeng untuk sistem sepak bola Inggris.

Filosofi, pendekatan, inovasi dan gebrakan Guardiola dipelajari dan ditiru oleh klub-klub lain, mulai Liga Premier, sampai sepak bola amatir dan akar rumput, bahkan mempengaruhi tim nasional Inggris.

Tapi dari keempat pelatih itu ada pertemuan gagasan yang mewujud sebagai pelajaran hebat yang melebihi spektrum olahraga dan sepak bola, yakni ketika semua orang kompak dan tak merasa lebih hebat dari yang lain, tak ada target yang tak bisa dicapai. Mereka mengajarkan ini.







Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Cerita indah tentang empat pelatih Liga Inggris

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026