Kulon Progo (Antara Jogja) - Kelompok Tani Ngudi Raharjo Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menerapkan sistem tanam jajar legowo atau "jarwo" dalam rangka meningkatkam produksi padi di wilayah ini.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispertan Kulon Progo Tri Hidayatun di Kulon Progo, Rabu mengatakan, selama ini yang dilakukan oleh petani adalah tanam padi legowo atau disebut "legowo ompong" yang artinya tanpa sisipan, sehingga populasi jadi berkurang dari jatah areal.

"Untuk itu perlu diingatkan lagi dengan tanam jajar legowo yang benar sesuai amanat GP-PTT 2015. Yang dimaksud sistem tanam jajar legowo adalah menyisipkan tanaman ke dalam baris sampingnya yaitu baris terluar, sehingga tidak mengurangi populasi tanaman dalam areal tersebut," kata Tri Hidayatun.

Berdasarkan pengalaman, kata dia, tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan produksi padi yang lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik karena padi di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak.

"Kami optimistis, sistem tanam jajar legowo akan meningkatkan produktivitas padi. Kami masih melakukan uni coba, kalau berhasil akan kami berlakukan di lahan pertanian di Kulon Progo," katanya.

Selain itu, ia mengatakan kendala utama dalam peningkatan produksi padi di Kulon Progo yakni serangan penyakit wereng punggung putih, tikus, dan belakangan ini disebabkan anomali iklim yang menyebabkan sawah tergenang air.

"Serangan hama wereng punggung putih ini sangat meresahkan petani karena sangat cepat menghisap sari padi. Hama wereng ini merata menyerang tanaman padi di seluruh Kulon Progo," katanya.

Untuk penanganan hama ini, kata Tri, Dispertan mengupayakan pendampingan dalam pengendalian hama, memberikan pestisida hayati, dan melakukan emposan terhadap hama tikus. "Kami berupaya memberantas hama yang mengganggu tanaman, supaya produktifitas tanaman padi terus meningkat," katanya.

Untuk meningkatkan produksi padi di Kulon Progo, kata Tri, Dispertan mengimbau petani melakukan intensifikasi padi prapanen dan paskapanen.

Intensifikasi prapanen, lanjutnya, meliputi percepatan pengolahan lahan, menggunakan varietas padi secara bergantian, penggunaan pupuk kimia dan organik secara berimbang dan penggunaan air irigasi secara maksimal sesuai masa tanam.

Dispertan mengimbau petani menanam benih padi unggul seperti benih Cieherang dan Inpari 13. Dengan benih unggul, diharapkan produksi padi juga meningkat.

"Strategi untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Kulon Progo lebih maksimal, kami akan menggalakkan petani mengikuti Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT),� katanya.

Menurut Tri, SLPTT terbukti mampu meningkatkan produksitivitas pertanian di Kulon Progo. Petani mulai memahami teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi padi. Untuk itu, petani harus mematuhi prosedur penanaman hingga penggunaan pupuk. "Kami berharap, SLPTT mampu mendongkrak produksi padi Kulon Progo," kata dia.

(KR-STR)