Pustral: program proangkutan umum perlu dipercepat
Jumat, 15 Mei 2015 19:32 WIB
Bus TransJogja (Foto Antara)
Jogja (Antara Jogja) - Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada meminta pemerintah mempercepat pelaksanaan program proangkutan umum dengan menghambat penggunaan kendaraan pribadi untuk mengantisipasi potensi melonjaknya tingkat kemacetan di Yogyakarta.
"Upaya proangkutan umum saat ini perlu segera dilakukan pemerintah karena penggunaan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat terus mengalami peningkatan," kata peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Lilik Wachid Budi Susilo di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, upaya meningkatkan animo masyarakat menggunakan angkutan umum dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa hambatan penggunaan kendaraan pribadi. Misalnya, dengan menerapkan pemungutan biaya kemacetan bagi pengguna kendaraan pribadi saat memasuki kawasan kota.
Upaya lain juga dapat dilakukan dengan mewajibkan pengguna kendaraan pribadi memarkir kendaraannya di perbatasan kota, tentu dengan menyediakan kantong parkir khusus atau halte "park and ride" (parkir dan melaju) atau dengan mencanangkan parkir dengan tarif progresif.
Menurut Lilik, keengganan masyarakat beralih menggunakan angkutan umum disebabkan mereka masih merasa nyaman menggunakan kendaraan sendiri, sehingga diperlukan upaya-upaya yang menghambat.
Di sisi lain, kata dia, pelayanan angkutan umum juga perlu ditingkatkan disertai dengan pemberian insentif bagi masyarakat, misalnya dengan memberikan diskon bagi pelajar atau mahasiswa.
"Perbaikan kondisi angkutan serta ketepatan waktu tempuh juga perlu dipastikan," katanya.
Jumlah angkutan umum, menurut dia, sulit mengalahkan pertumbuhan kendaraan pribadi, disebabkan menjamurnya produk kendaraan pribadi di pasaran dijual dengan harga yang relatif murah.
Data dari Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) DIY mencatat laju pertumbuhan kendaraan bermotor di Yogyakarta berkisar antara 14 hingga 15 persen per tahun.
Ketua Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) Widijantoro mengatakan tingkat kemacetan yang tidak segera diantisipasi oleh pemerintah cepat atau lambat akan ikut memengaruhi tingkat produktivitas serta pendapatan masyarakat.
Penurunan produktivitas perekonomian masyarakat dapat terjadi, misalnya berkaitan dengan jasa biro perjalanan wisata.
"Misalnya jasa biro perjalanan yang menargetkan dapat menjangkau sejumlah destinasi wisata, akhirnya harus mengurangi (destinasi wisata) karena macet," kata dia.
(L007)
"Upaya proangkutan umum saat ini perlu segera dilakukan pemerintah karena penggunaan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat terus mengalami peningkatan," kata peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Lilik Wachid Budi Susilo di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, upaya meningkatkan animo masyarakat menggunakan angkutan umum dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa hambatan penggunaan kendaraan pribadi. Misalnya, dengan menerapkan pemungutan biaya kemacetan bagi pengguna kendaraan pribadi saat memasuki kawasan kota.
Upaya lain juga dapat dilakukan dengan mewajibkan pengguna kendaraan pribadi memarkir kendaraannya di perbatasan kota, tentu dengan menyediakan kantong parkir khusus atau halte "park and ride" (parkir dan melaju) atau dengan mencanangkan parkir dengan tarif progresif.
Menurut Lilik, keengganan masyarakat beralih menggunakan angkutan umum disebabkan mereka masih merasa nyaman menggunakan kendaraan sendiri, sehingga diperlukan upaya-upaya yang menghambat.
Di sisi lain, kata dia, pelayanan angkutan umum juga perlu ditingkatkan disertai dengan pemberian insentif bagi masyarakat, misalnya dengan memberikan diskon bagi pelajar atau mahasiswa.
"Perbaikan kondisi angkutan serta ketepatan waktu tempuh juga perlu dipastikan," katanya.
Jumlah angkutan umum, menurut dia, sulit mengalahkan pertumbuhan kendaraan pribadi, disebabkan menjamurnya produk kendaraan pribadi di pasaran dijual dengan harga yang relatif murah.
Data dari Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) DIY mencatat laju pertumbuhan kendaraan bermotor di Yogyakarta berkisar antara 14 hingga 15 persen per tahun.
Ketua Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) Widijantoro mengatakan tingkat kemacetan yang tidak segera diantisipasi oleh pemerintah cepat atau lambat akan ikut memengaruhi tingkat produktivitas serta pendapatan masyarakat.
Penurunan produktivitas perekonomian masyarakat dapat terjadi, misalnya berkaitan dengan jasa biro perjalanan wisata.
"Misalnya jasa biro perjalanan yang menargetkan dapat menjangkau sejumlah destinasi wisata, akhirnya harus mengurangi (destinasi wisata) karena macet," kata dia.
(L007)
Pewarta : Oleh Luqman Hakim
Editor : Masduki Attamami
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dishub Bantul kaji rute baru Malioboro-Imogiri pada angkutan Transjogja
18 January 2023 16:18 WIB, 2023
Transjogja Ngabean-Palbapang melayani sekitar 1.000 penumpang per hari
12 November 2022 17:58 WIB, 2022
Dishub Yogyakarta tambah parkir bus pariwisata di timur GOR Amongrogo
15 December 2019 18:36 WIB, 2019
Polisi tetapkan sopir Bus Trans Jogja penabrak pemotor sebagai tersangka
28 November 2019 19:40 WIB, 2019
Terpopuler - Jogja Terkini
Lihat Juga
Pemda DIY peringati 14 tahun UUK untuk kenalkan keistimewaan ke anak muda
12 September 2026 18:45 WIB