Yogyakarta (ANTARA) - Femmy Fyber sukses menggelar semifinal challenge Ready, Set, Slay di Jakarta yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2025 dengan mengajak peserta untuk menunjukkan kepercayaan diri mereka melalui gaya catwalk yang penuh percaya diri. Sebanyak 15 semifinalis dari berbagai daerah di Indonesia berlaga di runway untuk memperebutkan lima posisi pemenang.
Fanny Kurniati, President Director PT. Bintang Toedjoe yang turut hadir dalam acara semifinal ini, menjelaskan bahwa challenge ini lebih dari sekadar fashion, tapi juga suara perempuan yang ingin didengar.
“Ini tentang pemberdayaan perempuan dan menyeimbangkan kekuatan diri dari dalam dengan confidence yang menjadi fondasi untuk tampil memukau, baik dari segi penampilan maupun sikap,” ujar Fanny.
Ia menambahkan bahwa slay bukanlah soal memiliki bentuk tubuh tertentu, melainkan tentang tubuh yang sehat, sistem pencernaan yang terjaga, dan rasa percaya diri, dan kenyamanan dengan diri sendiri.
Bagi Femmy Fyber, slay adalah akronim dari Self-love, Learning, Attitude, dan You must be confident. Di tengah maraknya standar kecantikan yang sempit, Femmy Fyber mendorong masyarakat untuk melihat kecantikan sejati dari dalam tubuh, yaitu kesehatan pencernaan dan rasa percaya diri.
Fanny juga mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian yang didapatkan Femmy Fyber dalam menginspirasi masyarakat untuk merayakan diri mereka dengan cara yang lebih positif.
Challenge ini pun mendapat sambutan hangat di media sosial, dengan 853 unggahan video yang memberikan inspirasi bagi banyak orang. Arwin Nugraha Hutasoit, Head of Marketing PT. Bintang Toedjoe menjelaskan bahwa selain kompetisi catwalk, para semifinalis juga mengikuti bootcamp selama dua hari yang melibatkan sesi pembekalan tentang 3B—Beauty, Brain, and Behavior.
Di dalam bootcamp tersebut, peserta diajarkan tentang fashion, kecantikan, dan pelatihan percaya diri, yang semakin memperkuat pesan positif dari kampanye ini.
Karina Nadila, Putri Indonesia Pariwisata 2017, yang juga menjadi bagian dari dewan juri menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif Femmy Fyber.
“Berani tampil di media sosial bukan hanya soal gaya, tapi juga kesadaran diri. Ketika kita hadir dengan apa adanya, kita tidak hanya ‘slay’ di luar, tapi juga kuat di dalam,” katanya.
Challenge ini juga merupakan bagian dari kampanye Every Body Slay, yang mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir bahwa kecantikan dan kepercayaan diri tidak bergantung pada bentuk tubuh, tetapi lebih pada kesehatan tubuh, terutama sistem pencernaan.
Sebagai bagian dari kampanye ini, Femmy Fyber menekankan pentingnya asupan serat untuk menjaga kesehatan pencernaan, yang berperan dalam menstabilkan gula darah, mengontrol nafsu makan, dan memberikan energi sepanjang hari.
Andry Mahyudi, Head of Business Unit Upper Respiratory and Women Health PT. Bintang Toedjoe, menambahkan bahwa diet ekstrem yang sering ditemui di kalangan masyarakat justru dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti malnutrisi atau gangguan makan.
“Banyak orang terjebak dalam mindset ‘cepat kurus lebih baik’. Padahal, diet ekstrem bisa menyebabkan malnutrisi hingga eating disorder. Diet seharusnya bukan hukuman, tapi bentuk self-care. Setiap orang bisa percaya diri dengan tubuhnya sendiri, asal dilakukan dengan mengutamakan sistem pencernaan dan tubuh yang sehat,” jelas Andry.
Femmy Fyber hadir untuk membantu masyarakat dalam mencapainya dengan suplemen praktis yang mengandung psyllium husk dan ekstrak buah serta sayur tinggi serat, yang dapat melengkapi asupan serat harian. Dengan sistem pencernaan yang sehat, tubuh bisa berfungsi dengan optimal, dan kepercayaan diri pun dapat terpancar keluar.
Sebagai puncak dari challenge ini, lima peserta yang terpilih akan berangkat ke Jepang pada bulan November 2025. Mereka adalah Rahma Tyas Ayu Fairuztika (Jakarta), Dheviana Benawar (Depok), Grace Bersyeba Martha Haba (Tangerang), Oessella (Jakarta), dan Angie Levina Wijaya (Surabaya).
“Pada akhirnya, Ready, Set, Slay bukan hanya sekadar challenge, tetapi sebuah gerakan untuk mengekspresikan kepercayaan diri lewat gaya, kepribadian, dan cara kita memandang dunia. Setiap langkah adalah perayaan diri, dan setiap tubuh pantas untuk ‘slay’,” tutup Fanny Kurniati.