Logo Header Antaranews Jogja

Persepsi salah istilah "bonek" perlu diluruskan

Kamis, 29 Maret 2012 12:51 WIB
Image Print
Suporter Sepak bola "BONEK" (Foto Antara/doc)

Surabaya (ANTARA Jogja) - Adanya persepsi salah di masyarakat soal istilah julukan suporter Persebaya atau yang dikenal "bonek" (bondo/bekal dan nekat) perlu diluruskan, karena bonek sendiri sebenarnya adalah "bondo dan tekad".

Demikian yang dikatakan Pembina Bonek Q dan salah satu dedengkot Asosiasi Bonek Surabaya, Siti Nasyi'ah kepada ANTARA di Surabaya, Kamis.

"Bondo yang dimaksut adalah bekal yang bisa diartikan adalah uang, sedangkan tekad adalah kemauan untuk kerja keras. " kata Ita panggilan akrab Siti Nasyi'ah.

Menurut dia, bukti adanya "bondo" dan nekad bisa dilihat dalam setiap kali pertandingan dimana panitia pelaksana (panpel) tidak mendapatkan pemasukan yang tidak sedikit.
"Itu berati Bonek mensuport dengan uang. Bukan tekad saja, entah uang untuk beli tiket itu hasil jualan celana, tabungannya atau apa saja," ujar mantan wartawati Jawa Pos dari 1991-2002.

Paling baru, ibu anak satu ini menjelaskan pada saat laga dengan Arema di stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada 3 Januari lalu, Panpel dapat pemasukan Rp1,2 miliar. "Ini angka fantastik dari pertandingan Persebaya di tahun ini," katanya.

Ita mengatakan besarnya nama Bonek selama ini karena fanatisme suporter yang menjadikan anak-anak atau siapa saja ingin menjadi Bonek. Apalagi, Bonek juga diilhami dari kenekatan Arek-arek Suroboyo dalam melawan dan mengusir penjajah.

"Jendral Malaby terbuhuh oleh Arek-Arek Suboyo yang Bonek (bondo nekat) saja melawan dengan bambu runcing," katanya.

Semangat berjuang yang tinggi dan fanatisme terhadap Persebaya itulah yang menjadikan Bonek bisa disamakan bela tim dan bela negara. "Mengapa begitu, hanya demi Persebaya puluhan nyawa sudah melayang. Tetesan darah sudah dikorbankan," katanya.

Namun, lanjut dia, kebesaran nama Bonek itu kemudian disalah gunakan oleh arek-arek yang ingin menciderai dengan cara kriminal, misalkan dengan jalan menjarah, makan tidak bayar dan lainnya.

"Kebanyakan Bonek yang begini ini adalah Bonek abal-abalan karena Bonek sejati adalah Bonek berelemen atau yang berkomunitas. Itu ditandai dengan seragam kebesaran masing-masing elemen," katanya.

Kebesaran nama Bonek dari sisi ekonomi juga menguntungkan banyak pihak, meski juga ada yang dirugikan. "Yang diuntungkan penjual atribut panen karena kaos Bonek bebas dicetak dan dijual bebas di pasaran, seperti di Pasar Turi dan pasar-pasar lainnya," katanya. (A052)



Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026