Logo Header Antaranews Jogja

Peternak Gunung Kidul kesulitan pakan

Kamis, 13 September 2012 11:03 WIB
Image Print
Ternak sapi milik salah satu kelompok "Seroyo 1" Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul. (Foto ANTARA/Mamiek)

Gunung Kidul (ANTARA Jogja) - Sejumlah peternak di Desa Pacerjo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kesulitan mendapatkan pakan ternak.

"Kami sudah mengalami kesulitan mendapatkan pakan ternak sejak dua bulan lalu. Karena, rumput dan daun hijau dipekarang habis dan mengering," kata seorang peternak sapi, Tugiyono di Gunung Kidul, Kamis.

Ia mengatakan, peternak menggunakan sisa-sisa jerami yang telah difermentasi sebagai pakan ternak. Untuk menambah nutrisi ternak, dirinya memberikan makanan tambahan berupa bekatul atau gaplek yang dihaluskan.

"Kami memberikan bekatul atau gaplek yang dihaluskan dengan dicampur air. Setiap harinya hanya diberikan satu kali. Kami tidak kuat untuk membeli pakan hijau berupa batang jagung yang cukup mahal," kata Tugiyono.

Ia mengatakan, harga batang jagung muda atau "tebon" berkisar Rp4.000 hingga Rp5.000 per ikat yang berisi sekitar 12 batang jagung. Harga ini dapat naik tergantung ketersediaan pakan dan pasokan dari Klaten, Jawa Tengah.

"Meski rawan pakan, kami tidak menjual ternak. Biasanya, yang menjual ternak sapi, saat musim kemarau ini mereka yang memiliki sapi lebih dari dua ekor," kata dia.

Harga sapi, kata dia, juga tidak mengalami penurunan. Satu ekor sapi lokal indukan masih berkisar Rp7 juta hingga Rp9 juta per ekor. "Tingginya harga sapi karena menjelang Idul Adha, jadi masih tinggi. Biasanya, kalau musim kemarau seperti ini, harga sapi murah," kata dia.

Ia juga mengatakan, mengeringnya Telaga Sri Lulut Serpeng yang terjadi sejak hampir tiga bulan terakhir ini menyebabkan dirinya dan warga yang lain mengalami kesulitan mendapatkan air untuk ternaknya.

"Telah Sri Sulut ini digunakan untuk kebutuhan ternak dan mencuci atau mandi penduduk. Tapi dengan keringnya Telaga Sri Lulut, penduduk mengalami kesulitan mendapatkan air," kata Tugiyono.

Dengan mengeringnya air di telaga Sri Lulut, sejumlah warga kemudian terpaksa memanfaatkan air perusahaan air minum (PAM) yang berasal dari sumber Seropan. "Kalau biasanya ada air telaga jauh lebih hemat. Karena air PAM hanya untuk minum dan memasak," kata dia.

Menurut dia, dengan dibantu sumber air telaga saat musim hujan, kebutuhan air selain untuk minum dan memasak dapat lebih terbantu. Menurutnya, hampir seluruh penduduk menggunakan air PDAM dengan harga 1 kubik air mencapai Rp 5 ribu.

"Kalau pas musim kering ini, rata-rata kami menghabiskan air sebulan 8-12 kubik, untuk memenuhi semua kebutuhan yang ada," kata dia.

(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026