Logo Header Antaranews Jogja

Produksi teh Indonesia terus merosot

Jumat, 12 Oktober 2012 12:56 WIB
Image Print
Ilustrasi perkebunan teh (antaranews.com)

Solo (ANTARA Jogja) - Produksi teh Indonesia terus merosot dari sepuluh tahun lalu yang berada di peringkat lima besar penghasil teh dunia menjadi posisi tujuh besar dan kalah dengan Vietnam dan Turki.

Merosotnya produksi komoditas teh ini salah satunya disebabkan banyak perkebunan teh rakyat yang dibabat digantikan tanaman lain seperti sayur-sayuran, karet dan lain-lain, kata Ketua Umum Dewan Teh Indonesia Rachmat Badruddin, Jumat.

Di sela-sela menghadiri acara Solo International Tea Festival (SITF) itu, Rachmat mengatakan, dalam sepuluh tahun terakhir kebun teh rakyat yang dibabat ada sekitar 30.000 hektare dan sekarang ini lahan kebun teh secara keseluruhan tinggal 120.000 hektare, tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra, dengan produksi sekitar 130 ton/tahun.

"Kebun-kebun teh yang ada sekarang sebagian besar di kelola oleh badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan-perusahaan swasta, sementara untuk kebun teh rakyat tinggal sedikit," katanya.

Perkebunan teh rakyat sekarang ini perlu kembali digalakkan, karena disamping menyerap tenaga kerja yang banyak, juga bisa menahan erosi. "Teh itu bisa hidup di dataran tinggi, kalau lahan itu tehnya dibabat habis jelas akan terjadi erosi dan banjir juga tidak bisa dielekkan. Anda bisa membayangkan sendiri kalau didataran tinggi itu semua ditanami sayur apa yang akan terjadi kalau pada musim penghujan banjir pasti itu," katanya.

Dikatakannya untuk kembali membangkitkan semangat teh rakyat Dewan teh Indonesia juga telah mendapatkan bantuan dana dari WHO sebesar 1,2 juta dolar Amerika Serikat. Dana itu untuk mengembangkan tanaman teh rakyat seluas 800 hektare di daerah Jawa Barat.

"Kami juga sudah melaporkan kondisi teh Indonesia kepada kementerian terkait agar ada perhatian mengenai masalah teh rakyat itu. Ya kalau dari WHO saja perhatian ini masak untuk kita tidak ada perhatian sama sekali ini kan terlalu," katanya.

Rachmat Badrunddin mengatakan, dengan merosotnya produksi teh dalam negeri, sekarang ini banyak teh-teh dari luar negeri yang masuk ke Indonesia, padahal semestinya itu semua bisa dipenuhi sendiri kalau tidak kebun teh itu dibabat.

Menyinggung mengenai harga teh dunia yang terus merosot, ia mengatakan sebenarnya sekarang ini sudah mulai membaik yaitu harganya mencapai tiga dolar Amerika Serikat per kilogram.

"Memang dengan harga teh sebesar itu masih ada yang beranggapan rugi untuk tanam teh, tetapi kalau manajemen perusahaan itu benar semestinya tidak rugi," katanya.

Festival teh tersebut selain diikuti dari perusahaan teh dalam negeri juga diikuti dari luar negeri seperti Malaysia dan lain-lain. Melalui kegiatan ini diharapkan bisa membangkitkan kembali produksi teh dalam negeri dan menambah banyak pecinta teh, karena minuman ini bisa untuk mencegah berbagai penyakit.

(J005)



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026