Ekspor kerajinan gerabah ke Amerika belum pulih

id gerabah

Ekspor kerajinan gerabah ke Amerika belum pulih

Produk kerajinan gerabah Kasongan Bantul, DIY (Foto Antara/Noveradika)

Bantul (ANTARA Jogja) - Ekspor kerajinan dari Sentra Kerajinan Gerabah Kasongan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ke Amerika pascakrisis ekonomi yang melanda negara tersebut sampai kini belum pulih.

"Sejak krisis ekonomi global beberapa tahun lalu, ekspor ke Amerika turun drastis, bahkan sampai saat ini `blas` (sama sekali) tidak ada pesanan yang masuk," kata Koordinator Wilayah Sentra Kerajinan Gerabah Kasongan, Suburjo Hartono di Bantul, Rabu.

Dia yang juga Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bantul mengatakan, krisis global yang melanda sejumlah negera di Eropa dan termasuk Amerika menurunkan nilai ekspor kerajinan gerabah hingga 100 persen lebih.

Ia menyebutkan, sebelum krisis ekonomi transaksi ekspor gerabah dari Kasongan rata-rata tiga sampai lima kontainer per hari, akan tetapi sejak krisis beberapa tahun lalu hingga saat ini menurun dan belum kembali normal.

"Ekspor ke Amerika yang sangat berpengaruh, sedangkan ke Eropa masih jalan, meskipun tidak sebanyak waktu sebelum krisis global," katanya yang juga sebagai perajin gerabah Kasongan.

Menurut dia, rata-rata nilai transaksi kerajinan tiap kontainer berkisar Rp50 sampai Rp100 juta tergantung jenis kerajinan dan kualitas barang.

Ia mengatakan, sementara saat ini negara yang menjadi tujuan utama ekspor kerajinan gerabah adalah Australia kemudian sejumlah negara di Eropa dan Afrika.

"Produk kerajinan seperti guci dan patung gerabah yang paling dominan diminati pembeli di luar negeri, tergantung inovasi dan model pengembangan hiasan dan balutan kerajinan," katanya.

Ia mengatakan, saat ini di Desa Wisata Kasongan terdapat sekitar 3.000 perajin gerabah di lima pedukuhan setempat mulai dari memproduksi sovenir gerabah kecil hingga kerajinan gerabah setinggi dua meter yang dijual hingga ribuan hingga ratusan ribu rupiah per buah.

"Sekitar 50 persen kerajinan yang dihasilkan dipasarkan ke berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Bali dan Jepara. Sekitar 50 persen lagi, diekspor," katanya.

(KR-HRI)


Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.