
Petani Bantul tanam padi dua kali setahun

Bantul (ANTARA Jogja) - Sebagian kelompok tani di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, hanya dapat menanam padi selama dua kali dalam setahun karena kesulitan irigasi.
"Kami tidak bisa menanam padi sepanjang musim, karena ketersediaan air irigasi di daerah kami tidak mencukupi," kata Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan Nasuha di Bantul, Selasa.
Ia mengatakan dari lahan garapan kelompok seluas 140 hektare yang bisa ditanami padi hanya seluas 60 hektare, karena selebihnya ditanami tanaman palawija seperti jagung dan kacang tanah.
"Areal persawahan kami kan tadah hujan, jadi ditanami padi hanya saat musim hujan, dari Desember sampai Agustus. Selebihnya hanya tanaman palawija," katanya.
Menurut dia, dengan keterbatasan kesempatan tanam itu, kelompoknya mengaku tidak dapat menghasilkan panen melimpah, sehingga sebagian besar hasil panen disimpan untuk cadangan pangan sendiri.
"Jarang ada hasil panen yang dijual, karena untuk konsumsi sendiri sudah habis, total anggota kelompok di Guwosari sebanyak 219 petani, jadi lahannya sempit-sempit," katanya.
Ketua Gapoktan "Tani Mulyo" Desa Sriharjo Warijo mengatakan, dari semua lahan garapan di desa seluas 190 hektare, dalam setahun ditanami selama tiga musim, yakni padi-padi-palawija atau padi-palawija-padi.
"Semua lahan memang bisa ditanami, namun tidak padi terus, harus ada selingan, terutama saat kemarau tanam palawija. Karena saat kemarau air irigasi di wilayah kami sulit," katanya.
Ia mengatakan hasil panen padi kelompoknya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, meskipun ada sisa tidak akan dijual, namun untuk persediaan dalam beberapa waktu ke depan.
"Rata-rata para petani punya tempat untuk menyimpan gabah di rumah masing-masing, ada beberapa hasil panen yang dijual kalau pas harganya baik," katanya.
(KR-HRI)
Pewarta :
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
