Logo Header Antaranews Jogja

Kemandirian pangan DIY: Kolaborasi Biijana Paksi Sitengsu dan Petani Punk bidik pemenuhan standar gizi global

Senin, 4 Mei 2026 22:40 WIB
Image Print
Kolaborasi Biijana Paksi Sitengsu dan Petani Punk membidik pemenuhan standar gizi global dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (ANTARA/HO-YBPS)

Yogyakarta (ANTARA) - Yayasan Biijana Paksi Sitengsu menyatakan komitmennya dalam mendukung program pemerintah melalui Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan dengan mensinergikan standar antropometri terbaru dari WHO, FAO, serta potensi lokal DIY melalui program Lumbung Mataraman.

Fokus utama program ini adalah memastikan setiap porsi makanan memiliki ketepatan gizi, terutama protein hewani, guna menekan angka stunting dan gangguan pertumbuhan pada anak.

Pembina Yayasan Biijana Paksi Sitengsu Ir RM Wahyono Bimarso, yang masih Sentono Dalem Keraton Yogyakarta, menjelaskan bahwa Program MBG akan menyerap bahan pangan berkualitas langsung dari masyarakat (Lumbung Mataraman) seperti telur, ikan, daging ayam, dan sayuran segar.

"Fokus kita bukan sekadar memberi makan, tapi memastikan ketepatan gizi berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Anak usia 1–9 tahun membutuhkan asupan 1.350 hingga 1.650 kkal dengan protein 20-40 gram per hari," ujar Ir RM Wahyono Bimarso, Senin.

Laporan terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 membawa kabar baik bagi ketahanan pangan nasional. Prevalensi stunting di Indonesia secara bersejarah berhasil ditekan hingga ke angka 19,8%, menandai pertama kalinya angka ini berada di bawah ambang 20%.

Keberhasilan ini selaras dengan penurunan angka ketidakcukupan konsumsi pangan (Prevalence of Undernourishment) yang kini menyentuh 8,27%, sebuah perbaikan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun tren menunjukkan arah positif, tantangan besar masih membayangi terkait keterjangkauan pangan sehat. Data FAO mengungkapkan sekitar 43,5% penduduk masih kesulitan menjangkau pola makan bergizi dengan estimasi biaya mencapai Rp75.000 per orang per hari.

Menanggapi hal ini, kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci. Inisiatif seperti program Lumbung Mataraman di tingkat lokal terus didorong untuk menguatkan kemandirian pangan warga, yang nantinya akan bersinergi dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah taktis pemerintah dalam intervensi gizi langsung di masyarakat.

Peran sektor non-pemerintah juga krusial dalam menjembatani kesenjangan akses nutrisi ini. Yayasan Biijana Paksi Sitengsu, misalnya, menjadi salah satu elemen yang aktif dalam mengawal kedaulatan pangan dan edukasi gizi di akar rumput.

Melalui penguatan ekosistem pangan lokal dan dukungan terhadap program strategis seperti MBG, diharapkan target Sustainable Development Goals (SDGs) nasional untuk menekan angka kelaparan hingga di bawah 5% dan penurunan prevalensi gizi buruk dapat segera tercapai secara merata di seluruh pelosok negeri.

Upaya ini sejalan dengan tren positif penurunan stunting di wilayah Gunungkidul pada ahun 2024 sebesar 19,7%, kemudian pada Semester I 2025: 16,22% (di bawah ambang batas WHO 20%) hingga target 2029, menuju target nasional 14,2%.

Guna menjamin transparansi dan kualitas, Yayasan Biijana Paksi Sitengsu sedang menyiapkan pilot project di Gunungkidul dengan membangun Command Center lumbung mataram SIMETRIS. Saat ini untuk infrastruktur saat ini sudah mencapai 100%.

Fitur Utama Command Center:
- Real-time Tracking: Memantau pengiriman makanan ke sekolah-sekolah.
- Batch Monitoring: Memantau proses persiapan dan waktu memasak setiap hari.
- Nutritional Dashboard: Memastikan setiap porsi memenuhi standar gizi.
- Automatic Alert: Peringatan otomatis jika ditemukan ketidaksesuaian gizi atau keterlambatan distribusi.

Sementara itu, salah satu mitra Yayasan Biijana Paksi Sitengsu yakni Petani Punk Gunungkidul berharap Yogyakarta bisa menjadi role model nasional dalam program ketahanan pangan atau MBG berbasis kedaulatan pangan lokal.

"Kita tetap memantau agar program ini benar benar bisa menjadi angin segar bagi para petani muda yang selama ini sering mengalami kendala dalam pemasaran hasil panen dan terkadang bingung untuk pemasaran dan harus bergantung pada pengepul," jelas SiBag, Koordinator Petani Punk Gunungkidul.

Dengan adanya Dapur MBG, Ia berharap petani lokal temasuk potensi petani milenial atau Gen Z, bisa langsung menyuplai kebutuhan bahan pangan tanpa melalui rantai distribusi yang panjang," ujar SiBagz.

Saya berharap program ini menjadi momentum regenerasi petani, mengingat pentingnya peran petani muda dalam menjaga ketahanan pangan hingga 20 tahun ke depan," jelasnya

Melalui koordinasi intensif antara Yayasan Biijana Paksi Sitengsu dengan Badan Gizi Nasional (BGN), diharapkan integrasi pasokan pangan lokal kini memasuki tahap pematangan untuk mendukung penuh Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Dalam upaya menyelaraskan hasil panen petani lokal dengan kebutuhan nasional, Yayasan Biijana Paksi Sitengsu bersama BGN menetapkan standar nutrisi dan higienitas yang ketat," jelas Ir. RM Wahyono Bimarso

Ia berharap Pemerintah Pusat melalui Badan Gizi Nasional dan Kementerian Pertanian serta Pemprov DIY hadir bersama-sama ikut penuntasan gizi buruk di Yogyakarta, terutama bersenergi dengan Lumbung Mataraman dan Yayasan Biijana Paksi Sitengsu.

Keunggulan program ini terletak pada integrasi rantai pasok yang pendek. Pemanfaatan tanah kas desa untuk budidaya ikan dan sayuran oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) tidak hanya menjamin kesegaran nutrisi, tetapi juga memutar roda ekonomi lokal.

"Program MBG ini adalah investasi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan. Kami ingin Gunungkidul menjadi blueprint nasional bagi program yang bersih, transparan, dan berdampak nyata," tutur RM Wahyono Bimarso.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026