Logo Header Antaranews Jogja

Petani Bantul enggan tanam bawang merah

Sabtu, 30 Maret 2013 15:01 WIB
Image Print
Petani bawang merah di Bantul menyiapkan hasil panen untuk dijual (Foto ANTARA/Sidik)

Bantul (Antara Jogja) - Sebagian petani bawang merah di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam beberapa tahun terakhir enggan menanam komoditas itu karena hasil panennya tidak menguntungkan.

"Akibatnya, luas tanaman bawang merah di Bantul terus menurun, dahulu sempat mencapai seribu hektare, saat ini hanya seperempatnya atau sekitar 250 hektare," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bantul Suroto, Sabtu.

Menurut dia, keengganan petani menanam bawang merah karena seringkali harga jual hasil panen mereka rendah. Padahal, pada saat paceklik seperti saat ini harga bawang tinggi.

"Pada saat ada barang (bawang merah), harga jual rendah, namun sebaliknya saat harga tinggi, petani tidak mempunyai stok bawang, sehingga mereka menjadi tidak bersemangat menanam bawang," katanya.

Ia mengatakan tanaman bawang merah merupakan tanaman agribisnis, sehingga jika petani yang merasa berhasil mengembangkan maka akan mendapatkan untung, namun sebaliknya jika gagal maka akan rugi.

"Bawang cocok ditanam pada musim kemarau, tidak pada musim hujan karena rentan terserang penyakit, hanya sedikit petani yang berani menanam bawang di luar musim, karena risiko akan mengurangi produksi," katanya.

Memasuki musim tanam bawang merah saat ini, kata dia luasannya tergantung ketersediaan benih bawang merah di kalangan petani dari hasil panenan yang sengaja disimpan untuk dijadikan benih musim tanam selanjutnya.

Ia mencontohkan, seperti dirinya yang memiliki lahan seluas kurang lebih satu hektare, hanya bisa menanam bawang untuk lahan seluas 3.000 meter persegi, karena persediaan bibit terbatas.

"Selebihnya lahan saya tanami padi, karena menanam padi lebih mudah dan tidak berisiko," katanya yang menyebutkan jika harus membeli benih bawang merah mencapai Rp30.000 per kilogram.

Menurut dia, biaya operasional tanam hingga panen tiap hektare membutuhkan sebesar Rp60 juta, dengan produktivitas rata-rata 12 ton per hektare sehingga minimal untuk kembali modal harga jual saat panen sebesar Rp4.000 sampai Rp5.000 per kilogram.

"Itu kalau produktivitas bawang merah maksimal, namun kalau terkena penyakit produksinya berkurang, bahkan jika serangan parah bisa gagal panen, paling tidak kalau mau untung harga jualnya Rp8.000 per kilogram," katanya.

Pihaknya berharap, agar petani bawang kembali bersemangat menanam bawang maka perlunya pembatasan impor bawang merah, karena dengan begitu harga jual komoditas tersebut terus stabil tinggi atau paling tidak bisa menguntungkan petani.

"Kami berharap ada kebijakan pembatasan impor bawang merah, sehingga petani bawang bisa bangkit, bahkan tanpa bantuan dari dinas, karena dengan sendirinya petani akan terus mengembangkan areal tanam bawang," katanya.

(KR-HRI)



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026