Logo Header Antaranews Jogja

Penebangan pohon hutan TNGM sedikit

Minggu, 26 Mei 2013 16:12 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto jogja.antaranews.com)

Sleman (Antara Jogja) - Penebangan pohon secara liar atau pencurian kayu hutan di kawsan Taman Nasional Gunung Merapi selama ini sedikit, dan tidak sampai merusak ekosistem setempat.

"Selama ini pencurian kayu di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) hanya sedikit, dan mungkin tidak bisa dikategorikan sebagai pencurian," kata Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNGM Asep Nia Kurnia, Minggu.

Menurut dia, penebangan pohon hanya terjadi pada jenis pohon tertentu, yakni pohon sogo yang merupakan bahan utama pembuatan arang kayu.

"Penebangan pohon tersebut banyak terjadi di wilayah Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Pohon sogo yang banyak tumbuh liar itu, banyak yang ditebang untuk membuat arang kayu," katanya.

Ia mengatakan pohon sogo memiliki karakter di antaranya mudah tumbuh di lereng Merapi, karena sifatnya yang tahan panas.

"Sogo bukan tanaman asli ekosistem Merapi, tetapi asal Australia yang dibawa orang-orang Belanda ke Indonesia pada zaman penjajahan dahulu," katanya.

Menurut Asep, pohon sogo terbukti mudah tumbuh di lereng Gunung Merapi.

Ia mengatakan, pada saat erupsi Merapi pada 2010, banyak tanaman tersebut yang terkena awan panas, dan akhirnya meranggas.

Namun, kata dia, bijinya yang tahan panas itu, ketika jatuh ke tanah, cepat sekali tumbuh dan menjadi besar.

"Saat ini kawasan lereng Merapi yang terdampak erupsi sudah mulai hijau kembali. Ini terbantu dengan tumbuhnya pohon sogo," katanya.

Menurut dia, restorasi kawasan TNGM yang terdampak erupsi pada 2010, diupayakan menyesuaikan dengan ekologi asli kawasan setempat.

"Restorasi tanaman di TNGM mengacu pada tiga karakter wilayah lereng Merapi," katanya.

Tiga karakter tanaman restorasi Merapi itu adalah jenis makanan satwa, seperti pohon salam dan duwet, kemudian tanaman hidrologi untuk resapan air seperti gayam.

"Sedangkan yang utama adalah tanaman tahan panas seperti pohon puspa, yakni tanaman yang bisa adaptasi pada suhu tinggi, mengingat siklus erupsi Gunung Merapi," katanya.

Menurut dia, tanaman jenis itu meski sudah terbakar awan panas pada batangnya, akarnya tidak mati, dan dapat tumbuh kembali.

Ia mengatakan restorasi TNGM juga mengutamakan tanaman jenis lokal, dan menghindari jenis dari luar Merapi, serta pohon untuk kebutuhan pertukangan.

"Tanaman yang berasal dari luar jenis lokal Merapi dikhawatirkan akan merusak ekologi setempat, termasuk konservasi air," katanya.

(V001)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026