
Bali jadi contoh pengembangan seni rupa

Denpasar (Antara Jogja) - Direktur Pengembangan Seni Rupa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Watie Moerany mengatakan Bali diharapkan mampu menjadi contoh pengembangan seni rupa di Indonesia maupun mancanegara.
"Hal itu berkat pengembangan seni rupa di Bali cukup berhasil menyatu dengan kehidupan seni budaya dan aktivitas ritual masyarakat keseharian sehingga mampu memberikan inspirasi yang terus mengalir," kata Watie Moerany di Museum Arma Ubud, Kabupaten Gianyar, 30 km timur Denpasar, Kamis malam.
Ia mengatakan hal itu sebelum membuka kegiatan bulan ekspresi budaya dan tradisi Bali atau "Bali Art in Culture & Tradition" (Bali Act) yang digelar secara serentak pada 102 lokasi di Bali.
Goresan karya seni para seniman itu mempunyai nilai ekonomis tinggi yang selama ini mampu menembus pasaran mancanegara, disamping memberikan andil dalam pembentukan produk domestik regional.
"Seniman Bali sudah terbiasa sejak lama mengekspor karya seni kanvas disamping banyak dibeli oleh wisatawan saat menikmati liburan di Pulau Dewata," ujar Watie Moerany yang didampingi kurator pameran tersebut Rizky A. Zaelany dan pemilik Museum Arma Agung Rai.
Oleh sebab itu, daerah lain di Indonesia dan negara-negara lain diharapkan bisa meniru pola pengembangan seni rupa di Bali yang selama ini dinilai cukup berhasil dalam mengangkat taraf hidup dan meningkatkan mutu karya seni.
Rizky menambahkan, Bali selama ini dikenal secara meluas di mancanegara dengan kekayaan khasanah budaya yang dilandasi nilai-nilai agama serta kesenian yang terkait dengan kegiatan ritual.
Seni merupakan bagian dari kehidupan keagamaan, bahkan disebutkan bahwa agama adalah seni dan seni adalah agama itu sendiri.
Kebudayaan Bali yang sejak memiliki akar tradisi yang kuat dan terus tumbuh seiring dengan perkembangan zaman.
Kesinambungan nilai-nilai tradisi itu tercermin dalam perkembangan seni rupa Bali, karena berbagai kilasan sejarah mencatat bahwa seni rupa Bali menunjukkan sebuah perkembangan seni rupa yang berjalan dalam garis perkembangan tersendiri.
Perkembangan itu menunjukkan pertalian seni rupa dengan nilai-nilai tradisi dan budaya. Pertalian itu diyakini dapat mempertahankan identitas budaya ketika berinteraksi dengan modernitas.
"Hal ini menjadi motivasi kuat sehingga lahir menjadi sebuah gerakan estetis. Identitas budaya yang tercermin melalui bahasa rupa itu didasari usaha untuk mempertahankan kontinyuitas nilai-nilai dari masa lalu dalam menghadapi perkembangan zaman," ujar Rizky.
Seniman Nyoman Erawan dalam mengekpresi bulan budaya itu menampilkan 114 karya kanvas, karya instalasi dan performence yang mendapat perhatian besar dari masyarakat, seniman, pengamat seni dan wisatawan.
Erawan mendapat kepercayaan dari Menteri Pariwisata dan ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu untuk menyuguhkan karya-karya spesial bersamaan dengan kegiatan yang digelar pada 101 tempat lainnya di Pulau Dewata.
(I006)
Pewarta : Oleh IK Sutika
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
