Logo Header Antaranews Jogja

Yogyakarta upayakan tekan kasus bayi "stunting"

Selasa, 18 Maret 2014 18:01 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto amura-courier.blogspot.com)

Jogja (Antara Jogja) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah DIY berupaya menekan kasus bayi "stunting" atau bayi lahir pendek karena adanya kecenderungan peningkatan kasus dalam dua tahun terakhir.

"Bayi `stunting` disebabkan karena ibu tidak mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang selama kehamilan. Kasus ini perlu ditekan karena bisa mempengaruhi perkembangan anak di masa yang akan datang," kata Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Fetty Fathiyah di Yoyakarta, Selasa.

Menurut dia, panjang normal untuk bayi yang baru dilahirkan adalah 48 centimeter, sehingga bayi akan disebut stunting apabila panjang saat lahir kurang dari batas normal.

"World Health Organization (WHO) menyatakan panjang bayi normal adalah 50 centimeter. Namun, karena ada pengaruh genetik, maka panjang normal bayi di Indonesia ditetapkan 48 centimeter," katanya.

Kasus bayi stunting di Kota Yogyakarta mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir, yaitu 12 persen pada 2012 dan meningkat menjadi 16 persen pada 2013. Rata-rata ada 4.000 kelahiran bayi dalam satu tahun.

"Karena ada kecenderungan meningkat dalam dua tahun terakhir, maka harus ada perhatian khusus agar kasus ini tidak semakin meningkat," katanya yang menyebut ambang batas kasus bayi stunting adalah 20 persen dari jumlah kelahiran.

Bayi yang lahir pendek akan rentan mengalami masalah kesehatan di kemudian hari, seperti mudah terkena penyakit jantung, stroke, diabetes dan obesitas.

"Bayi yang lahir pendek juga memiliki usus yang pendek sehingga penyerapan gizi tidak maksimal. Bahkan ada penelitian yang menyatakan bahwa bayi yang lahir pendek akan memiliki kepandaian yang lebih rendah bila dibanding bayi yang lahir dengan panjang normal," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan DIY Inni Hikmatin mengatakan, upaya pencegahan kasus bayi stunting dapat dilakukan sejak remaja dengan mengonsumsi makanan bergizi yang banyak mengandung zat besi.

"Anemia bisa menjadi penyebab munculnya kasus bayi stunting. Oleh karena itu, para remaja putri perlu mendapat pemahaman mengenai pentingnya asupan gizi seimbang," katanya.

Remaja putri yang mengalami anemia bisa meningkatkan konsumsi sayur-mayur dan mengonsumsi suplemen yang banyak mengandung unsur Fe atau zat besi.

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mulai tahun ini memberikan suplemen Fe ke remaja putri yang dikonsumsi selama 10 hari yaitu menjelang dan selama menstruasi.

Selain itu, juga dilakukan konseling untuk meningkatkan pemahaman pentingnya asupan gizi seimbang.

(E013)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026