
Puluhan sapi kurban ditemukan terinfeksi cacing hati

Jogja (Antara Jogja) - Petugas Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta dibantu petugas tambahan dari Universitas Gadjah Mada menemukan 81 ekor sapi kurban terinfeksi cacing hati dari sejumlah tempat pemotongan hewan.
"Bagian yang terinfeksi cacing hati tersebut sudah langsung dipotong dan dimusnahkan karena sudah tidak layak konsumsi," kata Kepala Seksi Pengawasan Mutu Komoditas dan Kesehatan Hewan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindgakoptan) Kota Yogyakarta Endang Finiarti di Yogyakarta, Minggu.
Menurut dia, petugas di lapangan langsung meminta pengelola hewan kurban untuk memotong dan memusnahkan bagian sapi yang terinfeksi cacing hati dengan cara membakarnya.
Setelah dibakar, bagian tersebut kemudian dikubur di kedalaman minimal 60 centimeter agar cacing benar-benar mati dan tidak menyebar.
Selain infeksi cacing hati, petugas yang melakukan pemantauan dalam dua hari terakhir tidak menemukan jenis penyakit lain. "Sapi, kambing dan domba dinyatakan sehat sebelum disembelih. Tidak ada yang dibatalkan disembelih," katanya.
Sekitar 100 petugas diterjunkan untuk melakukan pemantauan di sejumlah titik penyembelihan sebelum dan sesudah hewan kurban disembelih.
Petugas sudah melakukan pemantauan di setidaknya 307 lokasi dengan jumlah hewan kurban sebanyak 4.635 ekor yang terdiri dari 1.732 sapi, 2.376 ekor domba dan 527 kambing.
"Pemantauan akan terus dilakukan hingga H+3 sehingga jumlah hewan yang akan dipantau masih akan terus bertambah. Masih ada kantor atau sekolah yang baru akan melakukan penyembelihan hewan kurban." katanya.
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, ada penambahan hewan kurban khususnya sapi. "Jumlah sapi kurban pada tahun ini mengalami penambahan yang cukup banyak," katanya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pertanian Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta Benny Nurhantoro memperkirakan, jumlah sapi kurban pada tahun ini akan mengalami peningkatan.
"Peningkatan itu terjadi karena selisih harga beli sapi dengan kambing atau domba tidak terlalu besar sehingga masyarakat memilih membeli sapi secara bersama-sama daripada membeli kambing sendiri," katanya.
(E013)
Pewarta : Oleh Eka Arifa Rusqiyati
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
