Logo Header Antaranews Jogja

Sumbermulyo kuatkan ekonomi perdesaan hadapi MEA

Selasa, 25 November 2014 00:09 WIB
Image Print
Pemerintah Kabupaten Bantul ( foto id.wikipedia.org)

Bantul, 24/11 (Antara) - Desa Sumbermulyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai menguatkan ekonomi perdesaan sebagai bentuk kesiapan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015.

Kepala Desa Sumbermulyo, Ani Widayani, Senin mengatakan, pihaknya telah berupaya mencari terobosan sebagai solusi mengadapi MEA tahun depan dengan mendidik masyarakat untuk mandiri secara ekonomi, melalui beberapa program yang dilaksanakan.

"Salah satunya produksi detergen ramah lingkungan oleh kelompok masyarakat, pembuatan detergen ini didampingi mitra kami, CV Mega Lintas Nusa," kata Ani usai peresmian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumbermulyo tersebut.

Menurut dia, dengan program tersebut masyarakat terutama ibu rumah tangga bisa memproduksi detergen untuk dijual di wilayah sekitar, dengan demikian hasilnya akan memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga serta pemberdayaan masyarakat.

"Selain itu, BUMDes Sumbermulyo juga akan mengoptimalikan Embung Merdeka sebagai tempat wisata, selama ini, embung yang terletak di Dusun Gunungan tersebut hanya dimanfaatkan untuk pengairan pertanian dan perikanan," katanya.

Sementara itu, Konsultan Marketing CV Mega Lintas Nusa, Budi Wiryawan mengatakan, produksi detergen ramah lingkungan diharapkan bisa memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat yang terlibat langsung di wilayah setempat.

Menurut dia, setidaknya ada sepuluh produk detergen ramah lingkungan yang ditawarkan pembuatannya oleh CV Mega Lintas Nusa.

"Di antaranya detergen, sabun cuci tangan, sabun cuci piring dan sebagainya. Kami akan MoU dengan BUMDes Sumbermulyo dalam waktu dekat, untuk kemudian memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat," katanya.

Ia mengatakan, produk detergen ramah lingkungan ini menurutnya bisa dipasarkan di wilayah setempat, dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan detergen pabrikan yakni Rp15.000 per kilogram, sehingga diyakini produk tersebut bisa diterima pasar.

"Kami ajarkan cara pembuatan sekaligus menunjukkan bahan dan alatnya, pelatihan ini bukan bertujuan keuntungan bisnis, melainkan melatih kemandirian masyarakat," katanya.

(KR-HRI)



Pewarta :
Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026