
Dana desa diharapkan untuk pengembangan desa wisata

Yogyakarta, (Antara Jogja) - Peneliti Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada Baiquni mengharapkan pemanfaatan dana desa di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dioptimalkan untuk pengembangan potensi desa wisata.
"Dana desa seharusnya dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan desa wisata," kata Baiquni di Yogyakarta, Senin.
Menurut dia, saat ini tidak ada alasan bagi pemerintah desa (pemdes) di DIY mengeluhkan ide maupun metode pemanfaatan dana desa yang dikucurkan pemerintah pusat. Sesuai potensi wisata yang dimiliki, dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengusulkan pengembangan desa wisata di daerah masing-masing.
"Dengan potensi wisata yang dimiliki, masing-masing desa di DIY memiliki potensi dikembangkan sebagai desa wisata sesuai karakter yang dimiliki," kata dia.
Di sisi lain, menurut Baiquni, Pemda DIY juga perlu mendorong keberanian pemerintah desa untuk mengusulkan pengembangan desa wisata. Partisipasi masyarakat, menurut dia, perlu dilibatkan dengan memberikan pembekalan dan pemahaman mereka mengenai pengelolaan desa wisata.
"Dalam rangka menuju pengelolaan pariwisata yang lebih profesional pemberdayaan masyarakat desa memang perlu dilakukan di antaranya dengan membuka kesadaran masyarakat dari paradigma masyarakat agraris ke industri pariwisata," kata dia.
Menurut Baiquni, pembangunan hotel, mal maupun apartemen di DIY jangan sampai mengalahkan pengembangan desa wisata sebagai ruh pariwisata asli di Yogyakarta. Pemberian izin pembangunan satu hotel, hendaknya diimbangi dengan pembentukan sepuluh desa wisata.
"Model ekonomi di Yogyakarta secara fitrah adalah ekonomi kerakyatan, jangan sampai mal dan hotelnya yang lebih menonjol," kata dia.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY Arya Nugrahadi mengatakan pengembangan desa wisata di DIY hingga kini terus dioptimalkan dengan melibatkan partisipasi masyarakat.
Arya menyebutkan jumlah desa wisata terdaftar di lima kabupaten/kota berjumlah 122, dengan sebaran 38 desa wisata di Sleman, 14 desa wisata di Gunung Kidul, 27 di Kota Yogyakarta, 33 di Bantul, dan 10 di Kulon Progo.
"Tema sejumlah desa wisata yang telah berdiri tersebut terdiri atas desa wisata alam, kerajinan, serta budaya lokal," kata dia.
Hingga kini, menurut dia, justru banyak pemohon pembentukan desa wisata baru dari masyarakat.
Setiap pekan, menurut dia, rata-rata ada empat pengajuan desa wisata baru.
(T.L007)
Pewarta : Luqman Hakim
Editor:
Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
