Logo Header Antaranews Jogja

Dinkes: tiga warga Bantul meninggal akibat leptospirosis

Minggu, 7 Agustus 2016 21:23 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto antaranews.com) (antaranews.com)

Bantul, (Antara Jogja) - Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Isitimewa Yogyakarta, mencatat tiga warga setempat meninggal dunia akibat penyakit leptospirosis selama periode Januari hingga awal Agustus 2016.

"Tahun ini sampai dengan Agustus kasus leptospirosis di daerah kita berjumlah 43 penderita, tiga orang di antaranya meninggal," kata Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan Dinkes Bantul, Pramudi Dharmawan di Bantul, Minggu.

Menurut dia, penderita penyakit leptospirosis di Bantul mayoritas atau 90 persen di antaranya petani, bahkan tiga orang yang meninggal dunia karena penyakit yang disebabkan tikus tersebut merupakan petani.

Ia mengatakan, daerah yang menjadi penyumbang kasus leptospirosis hampir merata di seluruh Bantul, namun daerah endemisnya berada di wilayah yang terdapat lingkungan sawah misalnya Pandak, Sewon.

"Itu karena kontur wilayahnya berada di daerah rendah, penyakit leptospirosis itu menjangkiti petani melalui genangan air sawah yang sudah terkontaminasi bakteri," katanya.

Pramudi mengatakan, guna mencegah penyakit leptospirosis di Bantul terutama kepada petani, Dinkes terus mensosialisasikan petani pentinganya memakai alat pelindung diri seperti sepatu bot saat masuk ke areal persawahan yang basah atau berlumpur.

"Petani sudah sering kita sarankan agar memakai alat pelindung diri, tapi karena mungkin merasa tidak nyaman di tempat yang `jeblok` (berlumpur), seringkali diabaikan, sebenarnya itu masalah kesadaran," katanya.

Pihaknya mengimbau, petani mewaspadai penyakit leptospirosis dengan memperhatikan gejala-gejala yang muncul seperti demam tidak mereda selama dua minggu, gangguan ginjal dan paru-paru. Jika dijumpai gejala tersebut diharap segera periksa ke dokter.

"Leptospirosis ini penyakit dengan risiko tinggi karena keganasannya. Dan biasanya 10 persen dari penderita ini penderita gawat, dari yang gawat angka kematian 40 persen. Dan itu pengobatannya sudah maksimal," katanya.

(T.KR-HRI)



Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026