Dinas imbau peternak sapi beri nutrisi hijau

id Peternak sapi

Peternak sapi (Foto Antara)

Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau kepada peternak sapi setempat untuk memberikan nutrisi hijau yang cukup guna mengantisipasi kegagalan sapi bunting.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Pangan Kulon Progo Drajat Purbadi di Kulon Progo, Rabu, mengatakan, akibat rendahnya kesadaran peternak memberikan nutrisi yang mencukupi bagi ternak betina mengakibatkan sapi betina mengalami kondisi tidak birahi selama beberapa siklus.

"Setelah disuntik program inseminasi buatan alias sperma beku pada sapi betina, sapi indukan tidak akan mengalami kebuntingan. Terutama hipo itu terjadi karena kualitas pakan yang diberikan di bawah kebutuhan nutrisi dari sapi," kata Drajat.

Menurut dia, kegagalan sapi bunting atau kesehatan reproduksi sapi betina masih menghantui ternak sapi yang memengaruhi program upaya khusus (upsus) sapi indukan wajib bunting (SIWAB). Kegagalan itu bisa berasal dari penyakit gangguan reproduksi.

"Kalau di Kulon Progo kasus gangguan repoduksi yang dominan adalah hipofungsi ovarium," katanya.

Pada 2018 ini, Kulon Progo mendapatkan target sebanyak 18.300 indukan sapi wajib bunting. Kementerian Pertanian akan membagikan 22.273 inseminasi buatan gratis kepada peternak demi mencapai target tersebut.

Kepala Seksi Produksi Peternakan, Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Budi mengatakan tingkat keberhasilan kebuntingan dan kelahiran terhadap akseptor sapi indukan di Kulon Progo masih rendah.

"Jumlah kelahiran dari akseptor sapi indukan melalui inseminasi buatan (IB) di 2017 hanya mencapai sekitar 1.776 ekor," kata Budi Sasongko.

Ia mengatakan target kebuntingan maupun kelahiran akseptor sapi indukan 2017 melalui program sapi indukan wajib bunting (SIWAB) tidak tercapai. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program tersebut disebabkan peternak kurang memperhatikan asupan pakan terhadap sapi yang dipelihara.

"Peternak tidak memperhatikan kebutuhan kandungan gizi dalam pemberian pakan pada ternak," katanya.

Selain itu, lanjut Budi, rendahnya kebuntingan juga disebabkan sapi indukan mengalami gangguan reproduksi. Indukan sapi yang demikian, sebelum dilakukan IB terlebih dahulu sapi indukan harus disembuhkan.

"Setelah bunting atau melahirkan, sebagian peternak tidak melaporkan ke petugas. Mengetahui belakangan, kelahiran anak sapi sudah dijual," katanya.

Ia mengatakan target akseptor IB melalui program Upaya Khusus (Upsus) SIWAB 2017 di Kulon Progo dari 16.716 akseptor bisa tercapai hingga 19.604 ekor. Akseptor yang berhasil bunting hanya sekitar 5.812 ekor.

"Sedangkan yang mencapai kelahiran hanya sekitar 1.776 ekor. Keberhasilan tersebut tersebar di 12 kecamatan," katanya. 

(U.KR-STR) 21-02-2018 05:32:03
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar