Sultan HB X buka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta

id PBTY,Yogyakarta

Gubernur DIY Sultan HB X didampingi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti serta Ketua Panitia PBTY Tri Kirana Muslidatun membuka acara Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) di Kampung Ketandan, Kota Yogyakarta, Rabu malam. (Foto Antara/Luqman Hakim)

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X membuka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke-14 yang digelar di Kampung Ketandan, Kota Yogyakarta, Rabu malam.

Sebagai tanda dibukanya acara puncak perayan Imlek 2019 tersebut, Sultan menabuh tambur di panggung utama didampingi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti serta Ketua Panitia PBTY Tri Kirana Muslidatun.

"Pekan Budaya ini dapat menjadi peristirahatan sejenak untuk merenung kembali bagaimana membangun semangat Keindonesiaan yang kini sedang terlanda oleh hawa panas perpolitikan nasional  yang bisa berpotensi menjadi disintegrasi sosial," kata Sultan dalam sambutannya.

Raja Keraton Yogyakarta ini berpesan agar suasana guyub rukun yang muncul dalam pekan budaya itu terus dilestarikan, khususnya untuk menghadapi momentum Pilpres 2019 yang rentan gesekan.

"Pilpres 2019 tinggal 60-an hari lagi. Menghadapi suhu panasnya perpolitikan ini kita harus berhati-hati dalam perkataan dan tindakan agar tidak disalah artikan," kata dia.

Ia berharap Masyarakat Tionghoa Yogyakarta dapat menjadikan PBTY sebagai wujud integrasi sosial, ekonomi, dan budaya menuju Indonesia baru yang lebih menyatu.

Pekan budaya yang digelar setiap tahun itu, kata Sultan, dapat menjadi sarana untuk menguatkan integrasi sosial dan budaya di tengah-tengah masyarakat Yogyakarta.

"Acara ini berpeluang menciptakan kedamaian guna memperkokoh persatuan dan kesatuan. Kebhinekaan adalah kekayaan bangsa Indonesia dan bukan untuk dipertentangkan," kata Sultan.

Humas PBTY ke-14 Gutama Fatoni mengatakan pekan budaya yang mengusung tema "Harmony in Diversity" itu digelar di Kampung Ketandan selama tujuh mulai 13-19 Februari 2019. Lebih lama dari PBTY 2018 yang hanya berlangsung selama lima hari.

"Tentunya dengan acara ini kita tunjukkan wujud akulturasi budaya yang ada di Nusantara sekaligus kami ingin menunjukkan kebersamaan, "City of Tolerance" di Yogyakarta ternyata bisa diterima," kata dia.

Menurut Fatoni, selama sepekan pengunjung PBTY dapat menikmati berbagai macam kuliner yang tersedia di sepanjang gang Kampung Ketandan. Mereka juga dapat menyaksikan beragam penampilan pentas seni dan budaya di tujuh titik panggung di kawasan itu.
 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar