Menag : Deradikalisasi menghindari tindakan drastis

id deradikalisasi,menag,moderasi

Menag : Deradikalisasi menghindari tindakan drastis

Menteri Agama Fachrul Razi seusai menghadiri acara pengukuhan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir sebagai Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Sportorium UMY, Kamis. (FOTO ANTARA/Luqman Hakim).

Yogyakarta (ANTARA) - Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, program deradikalisasi di Indonesia dilakukan dengan cara yang halus serta menghindari tindakan yang drastis dalam memerangi radikalisme.

"Kita ingin deradikalisasi juga dilakukan (secara) smooth'(halus) seperti itu. Tidak kita lakukan dengan upaya-upaya yang drastis," kata Fachrul seusai menghadiri acara pengukuhan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir sebagai Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Sportorium UMY, Kamis.

Menurut Fachrul, konsep deradikalisasi di Indonesia berbeda dengan yang dilakukan di negara lain yang menempuh upaya drastis dalam memerangi radikalisme.



"Kalau di negara lain, tentu mungkin terlalu drastis. Tapi, kami enggak seperti itu," kata dia.

Menanggapi pidato Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang menawarkan mengganti deradikalisasi menjadi moderasi, Fachur mengatakan bahwa moderasi merupakan program yang sejatinya sudah lama dikampanyekan dan masih terus berjalan di Indonesia.

"Moderasi sudah program lama. Jalan terus," kata dia.

Bahkan saat dirinya berkunjung ke Saudi Arabia, Fachur juga mengaku banyak berbicara tentang konsep moderasi.



"Sepertinya, Saudi juga melakukan mirip-mirip dengan yang kita lakukan di sini. Kalau bicara moderasi beragama ini sudah menjadi program dunia Islam. Kalau tidak, kita akan sulit maju," kata dia.

Sebelumnya, Haedar Nashir dalam pidato ilmiah saat pengukuhan sebagai Guru Besar UMY menginginkan agar program deradikalisasi dapat diganti dengan gerakan moderasi untuk menghadapi segala bentuk radikalisme di Indonesia dengan cara yang moderat.

Dalam pidato berjudul "Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan Perspektif Sosiologi" itu, Haedar mengatakan bahwa reorientasi atau revisi konsep dan kebijakan deradikalisasi sangat penting dan relevan agar tidak muncul salah pandang dan salah sasaran dalam melawan radikalisme.



"Dalam pidato ini, saya menawarkan mari kita akhiri deradikalisasi dan kita ganti dengan moderasi," kata Haedar.

Moderasi, menurut Haedar, dapat menjadi alternatif dari deradikalisasi agar sejalan dengan Pancasila sebagai ideologi tengah dan karakter bangsa Indonesia yang moderat untuk menjadi rujukan strategi dalam menghadapi radikalisme di Indonesia.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2024