Boris Johnson lengser dari PM

id boris johnson,covid-19,virus corona,brexit

Boris Johnson lengser dari PM

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memberikan pernyataan pers di halaman kantornya di Jalan Downing Nomor 10, London, Inggris, Kamis (7/7/2022). Boris Johnson menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, menyusul desakan dan seruan dari rekan-rekan menteri dan anggota parlemen di Partai Konservatifnya, seperti yang dilansir Kantor Berita Reuters Kamis (7/7) waktu setempat. (ANTARA FOTO/REUTERS/Peter Nicholls/wsj.) (ANTARA FOTO/REUTERS/Peter Nicholls/wsj.)

Jakarta (ANTARA) - Boris Johnson, Perdana Menteri Inggris yang dikenal dengan gaya rambut nyentrik, mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis (7/7) setelah kehilangan dukungan dari para menteri dan sebagian anggota parlemen konservatif.

Keputusan Johnson untuk mundur dari posisi Perdana Menteri Inggris terjadi setelah puluhan menteri dan pejabat pemerintah mengundurkan diri.

Aksi puluhan menteri dan pejabat pemerintah Inggris mengundurkan diri dipicu oleh aksi Menteri Kesehatan Sajid Javid dan Menteri Keuangan Rishi Sunak yang menyatakan mundur dari jabatannya pada Selasa (5/7).

Javid dan Sunak mundur dari jabatannya karena mereka tidak puas dengan cara Perdana Menteri Boris Johnson menangani tuduhan skandal pelecehan seksual seorang anggota parlemen dari partainya.

Dalam surat pengunduran diri mereka, Javid dan Sunak mempertanyakan kemampuan Boris Johnson untuk menjalankan pemerintah yang mematuhi standar.

Kedua menteri itu mengaku kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan Borish Johnson untuk memerintah demi kepentingan nasional setelah serangkaian skandal.

Sikap Mr. Messy Hair alias Tuan Rambut Berantakan yang sebelumnya bersikeras mempertahankan jabatan sebagai Perdana Menteri Inggris berubah setelah menerima surat dari Menteri Keuangan Nadhim Zahawi yang baru saja ia lantik.

Dalam suratnya, Zahawi mendesak Johnson untuk mundur dari posisi Perdana Menteri karena situasinya tidak lagi kondusif.

Kalau Johnson tetap melanjutkan memimpin pemerintahan, maka situasinya hanya akan bertambah parah: Bagi Anda, Partai Konservatif dan terutama bagi seluruh negeri, tulis Zahawi.

Desakan juga dilayangkan anggota parlemen senior Partai Konservatif Bernard Jenkin saat bertemu Johnson, pada Selasa (5/7).

Jenkin menekankan bahwa ini bukan cuma masalah Johnson harus lengser sekarang, tapi juga bagaimana cara Johnson mengundurkan diri.

Anda bisa mundur dengan bermartabat atau diusir keluar seperti Donald Trump, ujar Jenkin seperti dikutip Reuters.

Desakan Johnson mundur terjadi sebulan setelah Johnson lolos dari mosi tidak percaya di parlemen berkat dukungan 211 anggota fraksi konservatif.

Namun hasil pencoblosan menunjukkan bahwa 41 persen anggota Konservatif menentang kepemimpinan Boris Johnson.

Johnson menjadi tokoh Brexit ketiga yang ditumbangkan Partai Konservatif, menyusul bekas PM Theresa May dan Dominic Cummings, bekas direktur kampanye Brexit, yang sebelumya juga lengser dalam kisruh internal.
 

Masyarakat berkumpul di depan Downing Street saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyampaikan pernyataannya, di London, Inggris, Kamis (7/7/2022). (ANTARA FOTO/REUTERS/Henry Nicholls/wsj/NBL). (REUTERS/HENRY NICHOLLS/HENRY NICHOLLS)


Meredup

Situasi saat ini sangat berbeda saat Johnson berkuasa pada 2019. Ia begitu populer dan naik ke tampuk kekuasaan dengan menampilkan dirinya sebagai tokoh yang mengantarkan Inggris keluar dari Uni Eropa atau dikenal sebagai Brexit.

Politis Inggris yang dikenal dengan rambut pirangnya yang tidak rapi itu mengawasi kepergian Inggris dari Uni Eropa dan menjanjikan agenda baru yang radikal untuk memotong birokrasi, meningkatkan investasi, serta mengatasi ketidaksetaraan yang mendalam antara berbagai wilayah di Inggris.

Agenda- agenda populis Johnson membuat musuh bagi dirinya sejak dini karena beberapa kebijakan Johnson menabrak aturan yang sudah ada.

Sesaat wabah virus corona merebak di kota Wuhan di China pada Desember 2019, agenda Brexit Johnson menjadi hampir tidak terarah.

Awalnya, Johnson meremehkan COVID-19 namun dia terpaksa mengubah taktik ketika proyeksi ilmiah menunjukkan seperempat juta orang bisa mati di Inggris.

Dia kemudian menutup Inggris, menyarankan orang untuk tinggal di rumah.

Saat Johnson sendiri terinfeksi COVID-19 dan hampir membuatnya mati karena virus corona itu, ia memenangkan simpati masyarakat yang begitu besar.