
Menguat, dolar AS atas mata uang asing lain

New York (ANTARA) - Menguat, dolar AS naik terhadap mata uang utama lainnya dalam sesi berombak pada akhir perdagangan Kamis pagi WIB menyusul permintaan safe-haven.
Namun, para analis tetap yakin bahwa mata uang telah mencapai puncaknya dan berada di tengah tren turun secara keseluruhan.
"Dolar akan terus melemah karena prospek yang lebih jinak untuk inflasi AS dan kebijakan Fed ," kata Joe Manimbo, analis pasar senior Convera di Washington.
"Dolar kemungkinan akan tetap berada di jalur menurun selama pasar memperkirakan risiko material penurunan suku bunga AS tahun ini."
Greenback sebelumnya turun setelah serangkaian data ekonomi yang lemah mendukung ekspektasi bahwa Fed mungkin mendekati jeda dalam siklus kenaikan suku bunga.
Aksi jual dolar sebelumnya terjadi setelah bank sentral Jepang (BoJ) mempertahankan suku bunga sangat rendah. Yen awalnya naik tajam, tetapi pulih karena ekspektasi kebijakan yang lebih ketat dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, pejabat Fed pada Rabu (18/1/2023) meredam ekspektasi bahwa bank sentral AS mendekati akhir dari kebijakan pengetatannya.
Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan Fed perlu menaikkan suku bunga "sedikit" di atas kisaran 5,00 persen hingga 5,25 persen untuk menurunkan inflasi.
Presiden Fed St Louis James Bullard, pada bagiannya, mengatakan Fed harus mendapatkan kebijakan suku bunga di atas 5,00 persen "secepat yang kami bisa" sebelum menghentikan kenaikan suku bunga yang diperlukan untuk memerangi wabah inflasi yang sedang berlangsung.
Komentar mereka membantu mendorong saham AS lebih rendah dan memperpanjang reli di obligasi pemerintah yang membebani imbal hasil.
Pada perdagangan sore, mata uang AS naik terhadap mata uang terkait komoditas seperti dolar Australia, Selandia Baru, dan Kanada, yang sensitif terhadap selera risiko.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dolar menguat tehadap mata uang utama, karena sentimen risiko pudar
Pewarta : Apep Suhendar
Editor:
Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
