
Bali paceklik tenaga programmer

Denpasar (ANTARA) - Akademisi yang juga Rektor Primakara University I Made Artana mengatakan hingga saat ini Bali masih mengalami paceklik tenaga programmer sehingga sangat berpeluang untuk mencetak lebih banyak tenaga pemrograman perangkat lunak dan aplikasi itu.
"Lowongan untuk posisi programmer itu banyak, namun nyatanya tidak mampu terpenuhi. Meskipun banyak lulusan di bidang IT, namun sedikit yang betul-betul memiliki kompetensi sebagai programmer," kata Artana dalam media gathering Primakara University di Denpasar, Rabu.
Menurut dia, tidak jarang ada persepsi bahwa belajar programming itu sulit sehingga akibatnya jurusan ini menjadi dihindari. "Oleh karena itu, kami berusaha menghidupkan komunitas ini di kampus untuk membuat belajar ini menjadi menyenangkan," ujarnya.
Makin langkanya tenaga programmer yang dibutuhkan Bali dan juga Indonesia, lanjut dia, karena banyaknya lowongan kerja programmer dari luar negeri yang menjanjikan penghasilan lebih tinggi. Istimewanya lagi dapat dikerjakan dari Bali, bahkan dari tempat tinggal masing-masing.
"Perusahaan dari luar negeri juga diuntungkan dengan sistem kerja seperti ini karena mereka mengeluarkan upah yang lebih kecil dibandingkan tenaga kerja di negaranya. Dari yang seharusnya membayar gaji per bulan 3.000-4.000 dolar AS, dengan model remote ini cukup 1.500 dolar AS," ucapnya.
Selain itu, generasi muda saat ini banyak juga yang memang ingin bekerja secara remote atau tanpa perlu ke kantor, sehingga bagi perusahaan di Indonesia yang masih dengan budaya mesti ke kantor menjadi tak dilirik oleh para programmer.
"Sisi positifnya memang tenaga kerja kita bisa mendapat dolar. Namun efek negatifnya industri dalam negeri menjadi kekurangan talenta," kata Artana.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Akademisi: Bali berpeluang cetak lebih banyak programmer
Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor:
Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
