Yogyakarta (ANTARA) - Selama ini, batik sering dipandang sebagai busana formal yang hanya cocok dikenakan pada acara resmi. Padahal, di balik setiap motif batik tersimpan makna, filosofi, dan teknik yang dapat menjadi media untuk belajar budaya bagi generasi muda.
Pemilik Delova Wardrobe Mutiara Kurnia Dewi menilai bahwa salah satu tantangan utama dalam melestarikan batik adalah membangun rasa memiliki di kalangan generasi muda. Menurutnya, banyak sekali yang masih menganggap batik terlalu “tua”, sehingga kurang diminati sebagai pilihan fashion sehari-hari.
“Kalau sejak awal batik dikenalkan dengan cara yang berat, anak muda bisa merasa tidak cocok. Padahal, kalau mereka dilibatkan langsung dalam prosesnya, akan tumbuh rasa bangga karena bisa menghasilkan karya sendiri,” kata Dewi di sebuah acara workshop, Rabu (24/9/2025).
Baca juga: Pentingnya kekayaan intelektual bagi UMKM Batik di Era Digital
Workshop tersebut memperkenalkan teknik batik jumputan dan juga mengajak peserta dalam proses pembuatannya. Teknik ini dilakukan dengan cara menjumput atau mencubit kain putih polos, lalu meletakkan kelereng kecil di titik yang diinginkan, kemudian mengikatnya menggunakan karet, lalu kain dicelupkan ke dalam pewarna sintetis sesuai keinginan.
Hasil dari teknik ini berupa motif lingkaran dengan pola yang unik, karena setiap ikatannya dapat menghasilkan corak yang berbeda. Inilah yang membuat peserta merasa bangga dengan karya mereka yang memiliki nilai personal.
“Setiap orang bisa menghasilkan pola yang berbeda, dan itu bisa membuat kita merasa bangga. Dari situ, kita lihat bahwa batik bukan hanya sesuatu yang jauh, tapi juga sesuatu yang bisa kita ciptakan sendiri,” ujar Dewi.
Ia juga menambahkan, proses membuat batik jumputan tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga pengalaman. Dengan terlibat langsung, generasi muda dapat lebih mudah untuk menggabungkan batik dengan identitas dirinya.
Baca juga: Komisi VII DPR RI serap aspirasi pelaku UMKM batik di Yogyakarta
Selain mudah, teknik jumputan juga tidak membutuhkan alat yang sulit didapat. Prosesnya bisa dilakukan sendiri di rumah maupun dalam kelompok, sehingga dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan sekaligus memperkuat kebersamaan.
Dewi berharap kegiatan ini dapat memperluas pemahaman bahwa batik adalah warisan budaya yang dapat terus berkembang. Dengan cara-cara sederhana seperti teknik jumputan, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal batik, tetapi juga memiliki keterikatan emosional terhadapnya.
Melalui keterlibatan aktif generasi muda, batik berpeluang tetap hidup di tengah arus modernitas, sekaligus menegaskan posisinya sebagai warisan budaya yang layak dijaga dan diteruskan lintas generasi.
Baca juga: Menjaga napas batik complongan di tengah senja perajin tua
Baca juga: Wamen Ekraf tegaskan batik sebagai perjalanan sejarah yang perlu dilestarikan
