Yogyakarta (ANTARA Jogja) - Perajin batik jumputan di Desa Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berharap bantuan permodalan untuk meningkatan produksi.
Seorang perajin batik jumputan di desa setempat, Rani, di Yogyakarta, Selasa, mengaku hingga saat ini belum berani memproduksi batik jumputan dalam skala besar karena masih terkendala modal.
"Untuk skala besar saya belum berani kecuali ada yang membantu permodalan untuk itu," kata Rani yang juga pemilik toko Batik Jumputan "By Rani HS" itu.
Ibu rumah tangga yang mengaku memulai berbisnis batik selama satu tahun terakhir itu mengaku mampu memproduksi 10 batik dalam sepekan.
Hal itu, kata dia, disebabkan masih kurang memadainya jumlah tenaga kerja disamping juga sedikitnya modal yang dimiliki.
"Tenaga kerja yang saya miliki, saya rasa masih kurang memadai, padahal masih perlu banyak tenaga khususnya untuk bagian celup warna. Dan tentu saya tidak berani berspekulasi karena modal yang masih sedikit," katanya.
Ragam kerajinan batik jumputan yang ia produksi, antara lain berupa mukena yang dijual dengan harga Rp250.000 per lembar, syal Rp20.000-Rp80.000, dompet batik Rp40.000, dan slayer Rp25.000, sedangkan kain batik dengan lebar dua meter dijual dengan harga Rp100 ribu hingga Rp350 ribu.
Dari penjualan batik jumputan tersebut, Rani mengaku mendapatkan omzet rata-rata Rp5.000.000 per bulan.
Ketua Kelompok Perajin Batik Jumputan Tahunan, Tuliswati Sandhi, mengatakan bantuan permodalan tersebut diperlukan karena para perajin batik jumputan di daerah setempat sebenarnya telah memiliki orientasi ekspor.
"Kami (perajin batik jumputan, red.) semua di sini jelas memiliki keinginan untuk mengekspor produk kerajinan kami, tapi tentunya harus memiliki modal yang memadai," katanya.
Apalagi, kata dia, harga bahan baku pembuatan kerajinan batik jumputan tersebut relatif mahal untuk kalangan pemula.
Anggota Kelompok Perajin Batik Jumputan Desa Tahunan yang baru berusia satu tahun tersebut, kata dia, saat ini berjumlah 15 orang yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga.
Saat ini, bahan baku yang antara lain terdiri atas zat pewarna naptol dan indogosol tersebut harganya berkisar Rp70.000 per ons. Satu ons zat pewarna untuk membuat delapan lembar kain batik.
Pihaknya juga menginginkan inisiatif pemerintah setempat untuk mempromosikan batik tulis tahunan ke tingkat nasional maupun internasional.
(KR-LQH)
