Tenaga Ahli Menteri ESDM: RI kuatkan kerja sama energi dengan Rusia

id Tenaga ahli menteri esdm,Hangga yudha,Rusia indonesia energi,Kerja sama energi

Tenaga Ahli Menteri ESDM: RI kuatkan kerja sama energi dengan Rusia

Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra (kiri atas) berbicara dalam forum internasional, di St Petersburg, Rusia, secara hybrid, Jumat (10/10/2025). ANTARA/Dokumentasi pribadi

Jakarta (ANTARA) - Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra mengatakan Indonesia, sebagai negara terpadat keempat di dunia dan anggota baru BRICS, akan memperkuat kerja sama energi dengan Rusia, termasuk perusahaannya seperti Gazprom dan Rosneft.

Saat berbicara dalam forum internasional di St Petersburg, Rusia, secara hybrid, Jumat (10/10), Hangga, sapaan akrabnya, mengatakan Indonesia terbuka untuk berkolaborasi dengan Rusia di semua area energi strategis mulai dari penyediaan teknologi untuk penemuan gas raksasa hingga pengembangan energi nuklir dan proyek CCS/CCUS.


Menurut dia, sektor energi merupakan isu multisektor yang memecahkan tantangan, termasuk memfasilitasi investasi asing seperti potensi keterlibatan Rosneft dalam proyek Kilang Tuban, membutuhkan kolaborasi lintas 14 kementerian, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Keuangan, hingga Kepolisian RI.

"Jika kita ingin memecahkan masalah energi utama di Indonesia, kita harus bekerja sama lintas kementerian. Tidak bisa diselesaikan satu kementerian," kata Hangga lagi.

Baca juga: Menteri ESDM susun Permen untuk atur UMKM, koperasi kelola tambang

Pada kesempatan itu, Hangga juga menyampaikan bahwa transisi energi Indonesia memprioritaskan kepada aksesibilitas, keterjangkauan harga, dan ramah lingkungan.

Indonesia memiliki potensi 3.687 gigawatt (GW) energi terbarukan, tetapi baru memanfaatkan 0,4 persen, yang menunjukkan potensi pertumbuhan yang sangat besar.

Program biodiesel B40 atau campuran 40 persen FAME berbasis sawit dengan bahan bakar diesel, diterapkan pada 2025, dan rencana B50 pada 2026.

Indonesia juga melihat CCS/CCUS sebagai metode dekarbonisasi kunci, dengan target 15 proyek beroperasi sebelum 2030.

Potensi penyimpanan CO2 diperkirakan mencapai 25,5-68,2 miliar ton.

Untuk mendukung NZE 2060, Indonesia juga berencana memperkenalkan energi nuklir dengan reaktor modular kecil (SMR) yang sedang dipertimbangkan di Kalimantan dan Sumatera.

Hangga menyebut keahlian perusahaan seperti Rosatom dapat membantu dalam memfasilitasi teknologi di bidang ini.
Baca juga: Operasi tambang Freeport setelah longsor tunggu audit











Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Tenaga Ahli Menteri ESDM: RI perkuat kerja sama energi dengan Rusia

Pewarta :
Editor: Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.