Jakarta (ANTARA) - Direktur Fesyen Kementerian Ekonomi Kreatif Romi Astuti mengatakan produk daur ulang memiliki prospek yang menjanjikan dan berpotensi besar menjadi sumber ekonomi baru baik melalui bisnis fesyen, craft, material inovatif, maupun solusi.
"Kementerian Ekraf melihat meningkatnya praktik pemanfaatan limbah pakaian sebagai bagian dari perubahan positif dalam industri fesyen nasional. Tren ini sejalan dengan perkembangan conscious fashion global, yaitu konsumen semakin memilih brand yang memiliki komitmen terhadap keberlanjutan," katanya kepada ANTARA, Kamis.
Ia mengatakan transformasi ini menandai pergeseran yang lebih luas menuju industri fesyen yang bertanggung jawab, rendah limbah, dan berkelanjutan.
Produk hasil daur ulang semakin diterima pasar baik lokal maupun global karena menawarkan nilai tambah berupa keunikan desain dan memiliki nilai artistik tinggi.
Selain itu produk daur ulang memiliki cerita keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian konsumen dalam membeli barang, efisiensi biaya material yang biasanya lebih murah namun diolah menjadi produk premium dan produk eco-friendly memiliki potensi ekspor menjadi salah satu kategori yang diminati di banyak negara.
Pendekatan upcycling dan recycling, kata Romi, bukan hanya membantu mengurangi beban limbah tekstil yang saat ini menjadi salah satu kontributor terbesar sampah padat, tetapi juga menunjukkan bahwa pelaku usaha fesyen Indonesia mampu berinovasi dan merespons isu lingkungan secara kreatif.
Namun menjual produk ramah lingkungan atau daur ulang dinilai masih belum kompetitif karena harga seringkali di atas pasaran.
Maka itu pemerintah memfasilitasi beberapa program dan kegiatan untuk memperluas pasar produk berkelanjutan.
Romi mengatakan, Kemenekraf melalui program yang dilakukan Direktorat Fesyen selalu mendorong pegiat fashion untuk menerapkan nilai-nilai circular fashion dan menekankan cerita berkelanjutan agar brand naik kelas dan siap diterima pasar nasional maupun global.
Salah satu kriteria dalam proses kurasi program adalah dampak, sehingga pegiat fesyen yang mengusung konsep sustainable fashion mendapatkan nilai lebih dan berkesempatan lebih besar untuk lolos pendampingan dan mendapatkan fasilitasi dari Kementerian Ekraf.
"Beberapa program inkubasi seperti Inkubasi Fesyen Reguler dan Akselerasi Modest Fesyen, Program IDE.IND Fesyen untuk pendampingan brand fesyen skala nasional, maupun ASIK yaitu program akselerasi brand fesyen untuk mempersiapkan pasar ekspor, seluruh proses kurasinya memasukkan aspek ramah lingkungan dan sustainability dalam aspek penilaian brand yang akan lolos dan dibina oleh program Direktorat Fesyen Kemenekraf," katanya.
Kolaborasi dengan komunitas, desainer, penggerak lingkungan, berdiskusi bersama para pegiat fesyen mengenai isu sustainability fashion serta mengundang stakeholder terkait dalam sejumlah talkshow dan seminar juga dilakukan Kemenekraf guna memperluas pemahaman mengenai keberlanjutan dan pameran yang memberi exposure lebih pada jenama yang mengusung konsep tersebut.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Produk daur ulang berpotensi jadi sumber ekonomi baru
