Hanung Bramantyo mengajak masyarakat dialog sejarah Indonesia lewat sinema

id Hanung Bramantyo ,Dialog film ,Cinema

Hanung Bramantyo mengajak masyarakat dialog sejarah Indonesia lewat sinema

Sutradara Hanung Bramantyo memaparkan filosofi pembuatan film "The Hole" dalam talkshow "Sejarah VS Sinema: Perang Fiksi dan Fakta" di Ruang Cinema Gedung 6, Universitas Amikom Yogyakarta, Senin (1/12/2025). ANTARA/Indra Kurniawan

Yogyakarta (ANTARA) - Sutradara Hanung Bramantyo mengajak masyarakat membuka dialog tentang sejarah Indonesia melalui media sinema dalam temu wicara "Sejarah vs Sinema: Perang Fiksi dan Fakta" di Yogyakarta, Senin.

Hanung dalam dialog memaparkan latar filosofis pembuatan film terbarunya berjudul The Hole atau Bolong, yang menyoroti peristiwa sejarah Indonesia yang belum terungkap tuntas.

"Pemaparan kali ini terkait sejarah dan sinema, jadi saya tidak hanya bercerita tentang film saya saja, tapi saya mencoba mengajak teman-teman semua memahami dasar kenapa saya membuat film ini," kata Hanung pada dialog yang berlangsung di Ruang Cinema Gedung 6 Universitas Amikom, Yogyakarta.

Ia juga menegaskan penolakannya terhadap label film horor untuk karyanya, karena menganggap industri film Indonesia telah menyederhanakan genre tersebut.

"Saya sebenarnya gak suka disebut film horor, karena saya bukan pembuat film horor. Yang namanya film horor itu bukan jump scare. Tapi oleh industri film di Indonesia, horor itu adalah jump scare," katanya.

Menurut dia, genre horor sejati lahir dari representasi trauma sosial, merujuk pada film The Cabinet of Dr. Caligari tahun 1930-an yang merepresentasikan kondisi masyarakat Jerman pascaperang tanpa mengandalkan efek kejut.

"Esensi dari horor adalah suasana teror di dalamnya, yang mana teror itu mengancam kematian," katanya.

Dalam pemaparan teoretis, Hanung mengutip pemikiran Roland Barthes untuk menjelaskan bahwa sinema tidak harus mereplikasi realitas secara mentah.

"Menurut Roland Barthes, fiksi adalah sistem tanda yang menyusun dunia teks. Yang penting bukan apakah cerita itu benar, tapi bagaimana teks mengorganisir makna dan mempengaruhi pembaca," katanya.

Terkait penulisan sejarah, Hanung membandingkan dua pendekatan berbeda, Leopold von Ranke yang menekankan dokumen asli sebagai kebenaran mutlak, versus Edward Hallett Carr yang memandang sejarah sebagai interpretasi.

"Edward Hallett Carr mengatakan sejarah adalah dialog antara masa kini dan masa lalu, karena sejarawan selalu menafsirkan fakta melalui perspektif zamannya. Ini yang saya lebih pas," katanya.

Ia mengkritik pandangan yang menempatkan tokoh besar sebagai satu-satunya penggerak sejarah, dengan menekankan pentingnya memahami kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.