Baca juga: Perkuat UMKM dan ekonomi kreatif untuk atasi pengangguran
Koperasi desa diposisikan sebagai penggerak ekonomi dari bawah, yang menghubungkan produksi, distribusi, dan konsumsi di tingkat lokal.
Penguatan ekonomi desa ini dinilai memberi kontribusi penting, tidak hanya bagi ekonomi lokal, tetapi juga bagi perekonomian nasional secara keseluruhan, sekaligus mempertegas arah pemerataan pertumbuhan.
Meski demikian, optimisme tersebut tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih membayangi. Dunia pada 2026 diperkirakan tetap berada dalam rezim ketidakpastian tinggi.
Ketegangan geopolitik, fragmentasi rantai pasok, serta kebijakan moneter ketat di negara-negara maju membuat dunia usaha global cenderung bersikap menunggu.
Dalam situasi seperti ini, Indonesia dinilai tetap menjadi salah satu titik terang stabilitas, dengan inflasi yang relatif terkendali dan prospek pertumbuhan yang masih menarik.
Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama Produk Domestik Bruto. Sepanjang 2025, konsumsi tumbuh relatif stabil dan menjaga roda ekonomi tetap berputar.
Namun, peneliti Desk Ekonomi Great Institute, Adrian Nalendra, mengingatkan adanya persoalan struktural yang tidak boleh diabaikan.
Stabilitas konsumsi agregat, menurutnya, cenderung menutupi kenyataan bahwa basis kelas menengah justru menyusut, sementara kelompok rentan dan kelas menengah rentan membesar.
Mobilitas sosial yang melambat menjadi tantangan serius, mengingat kelas menengah selama ini menjadi motor utama belanja dan pertumbuhan.
Kebijakan Presisi
Tantangan 2026, karena itu, adalah mengubah konsumsi rumah tangga dari sekadar penyangga pertumbuhan menjadi mesin akselerasi ekonomi, tanpa mengorbankan stabilitas harga.
Upaya ini menuntut kebijakan yang lebih presisi dalam memperkuat daya beli, produktivitas, dan kualitas lapangan kerja.
Dari sisi investasi, peneliti Great Institute Adamasky Pangeran menekankan pentingnya kepastian eksekusi kebijakan. Dalam iklim global yang penuh ketidakpastian, investasi menjadi sangat sensitif terhadap kejelasan arah dan implementasi kebijakan.
Tanpa kepastian tersebut, investasi berisiko bergerak dengan pola stop and go, sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja menjadi tidak optimal.
Baca juga: Kemenkeu nyatakan kinerja 2025 solid, jadi modal kuat untuk ekonomi 2026
Sementara itu, peneliti ekonomi, Yossie Martino, menilai 2026 sebagai tahun penentu arah pembangunan ekonomi Indonesia.
Stabilitas makro yang relatif terjaga harus dimanfaatkan sebagai pijakan untuk melakukan transformasi struktural yang lebih produktif dan berkeadilan.
Transformasi ini mencakup penguatan sektor bernilai tambah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemerataan manfaat pertumbuhan antarwilayah dan antarkelompok sosial.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 5,3 hingga 5,6 persen.
Proyeksi ini mencerminkan optimisme yang terukur, dengan prasyarat utama berupa sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang terjaga serta implementasi program prioritas yang berjalan efektif dan konsisten.
Ketidakpastian global tidak semestinya dijadikan alasan untuk bersikap pasif. Justru dalam situasi dunia yang tidak menentu, Indonesia dituntut untuk terus melangkah maju dengan kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang presisi, dan keberpihakan nyata pada ekonomi rakyat.
Sebab ketahanan ekonomi bukan sekadar soal bertahan, melainkan tentang kemampuan memanfaatkan momentum untuk melangkah lebih jauh.
*) Dr. Sudarto adalah Direktur Eksekutif Great Institute.
Baca juga: Analis ingatkan konflik AS dan Venezuela akan tekan pasar keuangan
Baca juga: Defisit berpotensi melebar, Purbaya memastikan gerak ekonomi tetap aman
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Prospek cerah ekonomi Indonesia pada 2026
